Di sebuah kota yang hiruk oleh gema takbir, seorang sufi justru memilih menyendiri. Ia tidak larut dalam keramaian. Muridnya mendekat dan bertanya, “Guru, mengapa engkau tampak gelisah di hari kemenangan ini?”
Sang sufi menatap langit yang mulai terang, lalu berkata, “Siapa yang mengatakan ini hari kemenangan? Jangan-jangan ini justru hari diumumkannya kegagalan kita… hanya saja kita tidak mendengarnya.” Sang murid tertegun mendengar ucapan sang guru.
Sang guru melanjutkan, “Ramadhan datang sebagai tamu agung, tetapi kita memperlakukannya seperti tamu biasa. Kita sibuk pada ritual, namun lalai pada makna. Kita bangun sahur, tetapi tidak membangunkan hati. Kita menahan lapar, tetapi tidak menahan keserakahan.” Ia terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara lebih dalam, “Dan yang paling menyedihkan… kita merasa sudah cukup.”
Dalam perspektif pemikir modern, Ramadhan sering kali mengalami reduksi makna. Ia berubah dari proses transformasi menjadi sekadar tradisi sosial. Para pakar sosiologi agama melihat adanya kecenderungan “seremonialisasi iman”—di mana ibadah dilakukan secara masif, tetapi tidak selalu berdampak pada perubahan etika dan keadilan sosial.
Hal ini sejalan dengan peringatan keras para ulama. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah menegaskan bahwa amal yang tidak melahirkan perubahan hati dan perilaku hanyalah bentuk kelelahan yang sia-sia. Sementara Hasan al-Basri mengingatkan, “Banyak orang yang tertawa di hari raya, padahal ia tidak tahu apakah amalnya diterima atau ditolak.”
Artinya, persoalannya bukan pada apakah kita telah menjalani Ramadhan, tetapi apakah Ramadhan benar-benar “menjalani” kita—mengubah cara berpikir, merasa, dan bertindak.
Sang sufi kemudian mengajak muridnya berjalan melewati pasar yang ramai. Orang-orang sibuk membeli pakaian baru, makanan berlimpah, dan segala persiapan hari raya. “Lihat,” katanya, “mereka merayakan berakhirnya lapar, bukan berakhirnya kelalaian.” Murid itu bertanya, “Lalu bagaimana seharusnya kita memaknai perpisahan ini, Guru?”
Ia menjawab, “Takut. Bukan takut kehilangan Ramadhan, tetapi takut tidak diterima oleh Allah. Dan harap. Bukan sekadar berharap bertemu Ramadhan lagi, tetapi berharap menjadi manusia yang berbeda ketika ia datang kembali.”
Apakah ibadah kita selama Ramadhan benar-benar mengubah karakter kita, atau hanya mengubah jadwal harian kita? Mengapa setelah Ramadhan, banyak kebiasaan buruk kembali dengan begitu mudah? Apakah kita lebih sibuk memperindah penampilan di hari raya daripada memperbaiki hati? Sudahkah kita menjadikan Ramadhan sebagai titik balik, atau hanya sebagai jeda sementara dari kebiasaan lama? Jika Allah tidak menerima amal kita, apakah kita akan tetap merayakannya dengan cara yang sama?
Selamat jalan, wahai Ramadhan. selamat jalan kesempatan yang belum tentu kembali. Jika tahun depan kita masih dipertemukan, semoga bukan sekadar mengulang, tetapi memperbaiki.
Dan jika tidak… semoga perpisahan ini bukan menjadi saksi bahwa kita pernah lalai saat diberi waktu untuk berubah.
Allah A’lamMakassar, 20 Maret 2026
Alat AksesVisi