Gambar Roasting Ramadhan Hari ke-30: Finish

Hari ini saya menulis dengan perasaan yang tidak sepenuhnya utuh karena sesuatu yang selama sebulan menemani kita, perlahan akan pergi dan kita tidak benar-benar tahu apakah kita akan sempat menemuinya lagi. 

Selama hampir satu bulan, setiap hari saya duduk, merenung, kadang dengan kepala yang masih dipenuhi sisa aktivitas, lalu mencoba menulis sesuatu tentang Ramadhan. Tentang lapar. Tentang haus. Tentang sabar yang sering kita klaim, tapi diam-diam kita tawar.

Awalnya, ini hanya catatan ringan. Semacam cara untuk mengamati diri sendiri, sambil sedikit menertawakan kebiasaan kita sebagai manusia. Tapi tanpa terasa, hari berganti hari. Tulisan demi tulisan terkumpul. Dan yang berubah ternyata bukan hanya topik yang ditulis, tapi cara saya melihatnya.

Saya mulai menyadari sesuatu yang sederhana:
Bahwa Ramadhan tidak pernah benar-benar membutuhkan tulisan kita. Kitalah yang sebenarnya membutuhkan Ramadhan untuk menulis ulang diri kita.

Di hari-hari awal, kita sibuk dengan adaptasi. Lapar terasa besar. Haus terasa panjang. Dan waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Di pertengahan, kita mulai terbiasa.

Tubuh belajar. Ritme terbentuk. Dan kita mulai merasa “cukup mampu”. Lalu di akhir, tanpa sadar, muncul perasaan yang berbeda.

Bukan lagi tentang mampu atau tidak, tapi tentang “sebentar lagi selesai”.

Dan entah sejak kapan, kalimat itu mulai terasa berat. Karena kita tahu, yang akan pergi bukan hanya Ramadhan sebagai waktu, tapi juga suasana yang tidak selalu bisa kita ciptakan sendiri. Suasana di mana kita lebih mudah menahan diri. Lebih sering mengingat. Lebih cepat merasa bersalah dan lebih ringan untuk kembali. 

Selama satu bulan ini, kita mungkin tidak menjadi manusia yang sempurna. Masih ada yang tertunda, masih ada yang terlewat. Masih ada tarawih yang kalah oleh lelah. Masih ada tilawah yang kalah oleh layar. Masih ada niat baik yang kalah oleh kebiasaan lama.

Tapi di antara semua itu, ada satu hal yang tidak bisa kita abaikan: Kita sudah berusaha hadir. Dan kadang dalam hidup hadir itu sendiri adalah bentuk keberanian.

Hari ini, ketika semua ini sampai di ujungnya, ada rasa syukur yang tidak terlalu bising, tapi dalam. Syukur karena diberi kesempatan.

Syukur karena masih diberi waktu. Syukur karena meskipun tidak sempurna, kita tidak benar-benar meninggalkan Ramadhan begitu saja. 

Dan di saat yang sama, ada juga rasa haru yang pelan-pelan muncul. Karena kita tahu, tidak ada jaminan kita akan bertemu lagi dengannya. Ramadhan selalu datang setiap tahun, tapi kita belum tentu selalu ada setiap tahunnya. Di sinilah semuanya menjadi lebih jujur. Bahwa yang kita jalani ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tapi pertemuan yang tidak pernah benar-benar pasti untuk terulang.

Maka mungkin, yang paling layak kita lakukan hari ini bukanlah merasa puas, tapi merasa cukup dan berharap diterima. Cukup karena kita sudah mencoba. Cukup karena kita sudah bertahan. Cukup karena di antara segala kekurangan, kita tidak sepenuhnya pergi.

Dan ketika Ramadhan ini benar-benar berlalu, ia mungkin tidak akan membawa semua perubahan yang kita harapkan. Tapi semoga, ia meninggalkan satu hal kecil saja di dalam diri kita: Sedikit jeda sebelum marah. Sedikit rem sebelum berlebihan. Sedikit ingat sebelum lupa.

Karena mungkin, memang perubahan besar tidak selalu datang sekaligus. Kadang ia hanya berupa pergeseran kecil yang konsisten.

Dan sebelum semuanya benar-benar selesai, izinkan saya jujur pada satu hal: Tulisan-tulisan ini bukan hanya tentang Ramadhan. Ia adalah cara saya berdialog dengan diri sendiri, tentang apa yang sering saya pahami, tapi jarang saya jalani. 

Jika ada yang terasa mengena, mungkin itu karena kita sama. Sama-sama berusaha. Sama-sama kurang. Sama-sama berharap. Dan di ujung semua ini, semoga yang tersisa bukan hanya kenangan satu bulan, tapi jejak kecil yang membuat kita sedikit berbeda setelahnya.

Bukan lebih hebat. Tapi mungkin, sedikit lebih sadar. Dan jika suatu hari nanti kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan, semoga kita datang bukan sebagai orang yang sama, tapi sebagai versi yang pernah belajar dari kepergian ini.

Terima kasih sudah berjalan bersama, dari lapar yang kita keluhkan, hingga makna yang perlahan kita temukan. Selamat berpisah dengan cara yang baik. Dan semoga, perpisahan ini bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang lebih tenang di dalam diri.

(*)