Gambar Roasting Ramadhan Hari ke 27: Mudik

Menjelang akhir Ramadhan, ada satu fenomena sosial yang selalu muncul dengan konsistensi yang luar biasa setiap tahun: Mudik. 

Jika para peneliti sosial mencari contoh tradisi yang paling kuat daya tahannya di Indonesia, maka mudik mungkin salah satu jawabannya.

Secara sederhana mudik adalah pulang kampung. Tetapi secara sosiologis, mudik jauh lebih kompleks. Ia bukan hanya perpindahan manusia dari kota ke desa, tetapi juga perpindahan status sementara. 

Di kota kita mungkin hanya pegawai biasa, tetapi begitu sampai di kampung, tiba-tiba kita berubah menjadi “orang kota”.

Makanya jangan heran kalau menjelang mudik banyak orang mulai sibuk mempersiapkan diri. Kendaraan diservis, pakaian baru dibeli, oleh-oleh disiapkan. Bahkan ada yang menyiapkan cerita sukses terlebih dahulu sebelum berangkat.

Karena dalam beberapa kasus, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga presentasi singkat tentang kehidupan kita di kota.

Pertanyaan di kampung biasanya juga sangat sistematis, hampir seperti wawancara kerja.

“Kerja di mana sekarang?”

“Gajinya berapa?”

“Sudah punya rumah belum?”

Kalau belum menikah, pertanyaannya lebih fokus lagi:

“Kenapa belum nikah?”

Dalam kondisi seperti ini, kemampuan menjawab dengan tenang menjadi sangat penting. Karena kadang yang ditanya bukan sekadar status, tetapi juga ekspektasi keluarga yang sudah menunggu beberapa tahun.

Mudik juga sering memperlihatkan satu hal menarik tentang manusia: betapapun sibuknya kita di kota, selalu ada kerinduan untuk kembali ke tempat kita memulai hidup.

Rumah lama mungkin sudah tidak semegah rumah di kota. Jalan di kampung mungkin tidak seramai jalan di kota. Tetapi entah mengapa di sanalah sering kita menemukan rasa tenang yang tidak selalu kita dapatkan di tempat lain.

Karena di kampung ada sesuatu yang tidak bisa dibeli di kota: cerita masa kecil, kenangan lama, dan orang-orang yang mengenal kita sebelum kita menjadi siapa-siapa.

Namun tentu saja mudik juga punya tantangan tersendiri. Jalanan macet, perjalanan panjang, dan kadang harus berdesakan dengan jutaan orang yang memiliki tujuan yang sama: pulang.

Tapi justru di situlah uniknya mudik. Dalam kemacetan panjang itu, kita melihat satu hal yang sama pada setiap orang: keinginan untuk kembali kepada keluarga.

Karena pada akhirnya, sejauh apa pun seseorang pergi merantau, selalu ada satu tempat yang membuatnya ingin kembali. Tempat itu bernama rumah. 

Dan semoga perjalanan pulang kita bukan hanya menuju rumah di kampung halaman, tetapi juga perjalanan pulang menuju hati yang lebih bersih setelah Ramadhan. Aamiin.

(*)