Memasuki hari ke-25 Ramadhan, sebagian umat Islam mulai memasuki satu fase ibadah yang cukup khas: i’tikaf di masjid.
Secara sederhana, i’tikaf dapat dipahami sebagai upaya “mengasingkan diri sementara” dari kesibukan dunia untuk lebih fokus beribadah. Masjid menjadi tempat singgah, tempat berdiam, sekaligus tempat memperbanyak doa dan refleksi diri.
Namun dalam praktik sosial sehari-hari, fenomena i’tikaf juga memiliki dinamika yang cukup menarik.
Sebagian orang datang ke masjid dengan niat yang sangat serius: membawa Al-Qur’an, buku doa, bahkan daftar target ibadah. Mereka benar-benar ingin memaksimalkan sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Sebagian yang lain juga datang dengan semangat yang sama, tetapi dengan tambahan perlengkapan yang sedikit berbeda: bantal kecil, sarung cadangan, dan kadang charger ponsel.
Ini bukan kritik, tentu saja. Ini hanya menunjukkan bahwa manusia memiliki cara yang beragam dalam menjalani ibadah. Dalam beberapa masjid, suasana i’tikaf memang sangat khusyuk. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang berdzikir, ada yang berdoa dengan penuh harap. Namun di sudut lain, kadang terlihat fenomena yang sangat manusiawi: jamaah yang sedang tertidur dengan sangat damai.
Jika dilihat sepintas, mungkin terlihat seperti sedang istirahat biasa. Tetapi jika ditanya langsung, jawabannya biasanya cukup meyakinkan: “Ini bukan tidur biasa, ini istirahat dalam rangka i’tikaf.”
Fenomena lain yang juga sering muncul adalah aktivitas memeriksa ponsel. Niat awalnya mungkin hanya ingin melihat waktu atau membaca satu pesan penting. Namun tanpa terasa, lima menit kemudian seseorang sudah berada di halaman ketiga media sosial.
Di titik ini, masjid kadang berubah menjadi tempat yang sangat menarik: pertemuan antara niat spiritual dan notifikasi digital.
Namun jika dilihat lebih dalam, i’tikaf sebenarnya mengajarkan satu hal yang sangat penting dalam kehidupan modern: belajar berhenti sejenak.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, manusia jarang memberi waktu pada dirinya sendiri untuk benar-benar diam, berpikir, dan mendekat kepada Tuhan.
I’tikaf mengingatkan bahwa tidak semua waktu harus diisi dengan aktivitas dunia. Ada saatnya manusia perlu menepi sebentar untuk memperbaiki hubungan dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dan dengan Sang Pencipta.
Karena pada akhirnya, sepuluh malam terakhir Ramadhan bukan hanya tentang mencari malam yang paling istimewa, tetapi juga tentang menemukan ketenangan yang sering hilang di tengah kesibukan hidup.
Walaupun tentu saja, dalam praktiknya tetap ada satu tantangan kecil dalam i’tikaf:
menjaga agar niat awal beribadah tidak berubah menjadi niat memperbaiki kualitas tidur di masjid.
(*)
Alat AksesVisi