Memasuki hari-hari akhir Ramadhan, ada satu pertanyaan yang mulai sering muncul dalam berbagai ruang percakapan: kapan cair THR?
Pertanyaan ini sangat fleksibel. Ia bisa muncul di mana saja.
Di masjid, setelah salam tarawih: “Pak, sudah cair THR?”
Di kantor, setelah rapat: “Ada info THR?”
Di grup WhatsApp keluarga: “Sudah masuk belum?”
Bahkan ketika pulang ke rumah, pertanyaan yang sama kadang muncul dalam bentuk yang lebih kreatif.
“Bu, kapan beli baju lebaran?”
Jawabannya: “Tunggu THR dulu.”
“Bu, kapan bikin kue lebaran?”
Jawabannya tetap sama: “Tunggu THR dulu.”
Kalau anak terlalu banyak bertanya, hampir semua pertanyaan bisa dijawab dengan satu kalimat universal: tunggu THR dulu.
Secara ekonomi sebenarnya besaran THR tidak terlalu signifikan. Umumnya sekitar satu kali gaji pokok ditambah beberapa tunjangan. Kalau dihitung secara matematis, jumlah itu sering kali tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan lebaran yang tiba-tiba muncul secara kreatif.
Namun yang menarik, daya tarik THR tidak hanya pada jumlahnya, tetapi pada proses menunggunya.
Menunggu THR sudah seperti tradisi sosial tahunan. Ia mampu menghidupkan harapan, mengaktifkan kalkulasi belanja, bahkan membuat orang lebih rajin membuka aplikasi mobile banking dibandingkan biasanya.
Sebagian orang mungkin membuka rekening lima kali sehari, bukan untuk transfer, tetapi sekadar memastikan apakah ada notifikasi baru yang muncul.
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan satu hal menarik dalam psikologi manusia: menunggu sesuatu yang menyenangkan sering kali terasa lebih seru daripada ketika sesuatu itu benar-benar datang.
Namun Ramadhan sebenarnya mengajarkan perspektif yang sedikit berbeda.
Ramadhan tidak hanya melatih manusia untuk menunggu, tetapi juga untuk memberi.
Dalam banyak keluarga, tradisi THR sering digambarkan dengan pola sederhana: orang tua memberi kepada anak-anak. Ini tentu tradisi yang baik. Tetapi akan jauh lebih menarik jika suatu hari polanya mulai berubah.
Bayangkan seorang anak berkata,
“Bu, ini THR dari saya.”
Secara ekonomi mungkin tidak besar, tetapi secara psikologis maknanya luar biasa. Pada saat itu seseorang tidak lagi sekadar menjadi objek yang menerima, tetapi sudah menjadi subjek yang memberi.
Karena dalam kehidupan sosial, posisi memberi selalu memiliki dimensi yang berbeda dibanding sekadar menerima.
Ramadhan sebenarnya sedang melatih manusia menuju tahap itu. Bahwa kebahagiaan tidak hanya datang dari saldo yang bertambah, tetapi juga dari kemampuan berbagi kepada orang lain.
Maka mungkin perspektif tentang THR perlu sedikit diubah. Bukan hanya menunggu THR,
tetapi juga belajar memberi THR.
Karena pada akhirnya, masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang hanya pandai menunggu bantuan, tetapi masyarakat yang semakin banyak anggotanya mampu memberi manfaat bagi orang lain.
(*)
Alat AksesVisi