Ada satu fenomena yang secara konsisten muncul pada pertengahan Ramadhan, khususnya memasuki hari ke-12, yaitu rasa kantuk yang sulit dinegosiasikan. Ia hadir di ruang kerja, di ruang kuliah, bahkan kadang lebih khusyuk daripada jamaahnya sendiri.
Fenomena ini kerap ditafsirkan sebagai kemalasan atau penurunan motivasi. Padahal secara fisiologis, ia berkaitan dengan perubahan ritme sirkadian dan pola tidur selama Ramadhan.
Pergeseran waktu makan ke dini hari, durasi tidur yang terfragmentasi, serta penyesuaian metabolisme energi menyebabkan tubuh mengalami apa yang dalam kajian kronobiologi disebut sebagai sleep debt ringan.
Dalam kondisi ini, tubuh sedang beradaptasi. Produksi melatonin bergeser, pola kortisol berubah, dan ritme biologis mencoba mencari keseimbangan baru. Rasa kantuk bukan sekadar lemahnya semangat, tetapi sinyal biologis bahwa sistem tubuh sedang melakukan penyesuaian terhadap pola hidup yang berubah.
Dengan kata lain, ngantuk itu bukan semata kurang kopi, tetapi konsekuensi dari restrukturisasi jadwal biologis. Ini soal ritme, bukan drama.
Namun di sinilah dimensi sosialnya muncul. Tidak semua orang memahami konteks ini. Di ruang-ruang formal, kantuk sering diartikan sebagai kurang profesional. Di ruang ibadah, ia dianggap kurang khusyuk. Padahal, yang terjadi sering kali bukan defisit niat, melainkan defisit durasi tidur.
Menariknya, dalam tradisi spiritual, kelelahan dalam ibadah justru memiliki nilai tersendiri. Di situ terjadi pergeseran evaluasi: apa yang secara fisik terasa berat, dalam perspektif ibadah bisa menjadi bagian dari kesungguhan.
Puasa, pada titik ini, memperlihatkan dimensi edukatifnya. Ia tidak hanya mengajarkan pengendalian lapar, tetapi juga pengelolaan ritme hidup. Ia memaksa manusia keluar dari kenyamanan pola reguler dan menguji seberapa stabil komitmennya ketika tubuh tidak berada pada performa optimal.
Namun refleksi tidak berhenti pada aspek biologis. Ada ironi yang lebih halus. Kita sering memaklumi kantuk fisik, tetapi jarang menyadari adanya “kantuk moral”.
Jika kantuk biologis adalah akibat kurang tidur, maka kantuk moral adalah akibat kurang kesadaran.
Kantuk fisik bisa pulih dengan istirahat sedangkan, Kantuk moral bisa menetap karena pembiaran. Kita mungkin terlelap sejenak saat ceramah tarawih, tetapi yang lebih berbahaya adalah ketika nurani tertidur saat melihat ketidakadilan.
Puasa sejatinya bukan sekadar penyesuaian metabolik, tetapi juga proses penyadaran. Ia bukan hanya menggeser jam makan, melainkan membangunkan kembali sensitivitas batin.
Maka bila kantuk menjadi tanda bahwa tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan ritme, seharusnya kewaspadaan batin menjadi tanda bahwa jiwa tidak ikut tertidur.
Karena pada akhirnya, orang mungkin bisa memahami kepala yang terangguk-angguk menjelang asar, tetapi sejarah tidak pernah memaklumi hati yang sengaja memejamkan diri dari kebenaran.
Di situlah hari ke-12 menemukan maknanya: bukan sekadar menahan lapar dalam kondisi lelah, tetapi menjaga agar kesadaran tetap terjaga ketika tubuh ingin rebah.
(*)
Alat AksesVisi