Gambar Roasting Ramadan, Hari ke Tujuh: Sindrom Lima Menit

Ada fenomena yang hanya muncul setahun sekali dan hanya bisa dipahami oleh orang berpuasa: lima menit terakhir sebelum adzan maghrib terasa lebih panjang daripada lima jam sebelumnya. 

Secara kronologis sama-sama 300 detik. Secara psikologis, ini wilayah metafisika.

Sejak pagi kita terlihat tenang. Masih bisa rapat, masih bisa mengajar, masih bisa tersenyum pada rekan kerja. Energi memang turun, tetapi harga diri masih stabil. 

Namun ketika jam menunjukkan pukul 17.55, mendadak seluruh sistem dalam tubuh seperti mengadakan konferensi darurat. Lambung memberi notifikasi. Otak mulai menampilkan slideshow makanan. Tenggorokan terasa lebih kering daripada biasanya, padahal sejak jam dua siang juga sudah kering.

Secara fisiologis, ini bisa dijelaskan. Kadar gula darah memang sedang rendah. Hormon ghrelin yang sering dijuluki hormon lapar meningkat menjelang waktu makan yang biasa. Tubuh memiliki memori biologis tentang jadwal asupan. Maka ketika maghrib mendekat, seluruh sistem antisipasi aktif. Tubuh sedang bersiap menerima suplai energi. Ini bukan drama, ini biologi.

Namun yang menarik adalah dramatisasi psikologisnya. Waktu yang objektif bisa diukur dengan jam. Waktu yang subjektif diukur dengan kesabaran. Lima menit saat kenyang tidak terasa. Lima menit saat lapar terasa seperti ujian tesis tanpa dosen pembimbing. Di sinilah puasa memperlihatkan bahwa persepsi manusia sangat elastis. Kita tidak hanya hidup dalam waktu kronologis, tetapi juga waktu emosional.

Lucunya, di lima menit terakhir itu pula godaan mencapai puncaknya. Iklan makanan mendadak terasa lebih persuasif. Suara sendok menyentuh piring terdengar seperti simfoni. Bahkan air putih yang pada hari biasa sering kita abaikan berubah menjadi objek kerinduan yang puitis.

Di sini Ramadhan sedang mengajari satu hal penting: sebagian besar penderitaan bukan karena durasinya, tetapi karena penantiannya.

Secara sosial, lima menit terakhir juga penuh dinamika. Ada yang sudah standby di depan meja makan lengkap dengan kurma tersusun rapi. Ada yang masih di jalan sambil melirik jam setiap tiga puluh detik. Ada pula yang memasang wajah paling sabar padahal batinnya sudah membaca doa berbuka tiga kali sebagai latihan.

Menariknya, justru di momen kritis inilah nilai sabar mencapai titik klimaks. Sabar bukan diuji ketika masih kuat. Sabar diuji ketika tinggal sedikit lagi selesai. Banyak orang kuat di awal, goyah di akhir. Puasa melatih konsistensi sampai garis finish. Ia bukan lomba cepat, tetapi lomba tuntas.

Dalam tradisi Islam, berbuka bukan sekadar tindakan biologis menghentikan lapar. Ia adalah momen syukur. Nabi menganjurkan untuk menyegerakan berbuka ketika waktunya tiba. Artinya keseimbangan dijaga. Menahan diri ada waktunya. Menikmati rezeki juga ada waktunya. Spiritualitas tidak menghapus kebutuhan biologis, tetapi mengaturnya.

Yang unik, detik adzan itu seperti tombol reset emosional. Tadi tegang, sekarang lega. Tadi sensitif, sekarang ramah. Segelas air bisa mengubah suasana hati secara revolusioner. Ini membuktikan betapa tipisnya jarak antara emosi dan metabolisme. Kadang yang kita kira masalah kepribadian, ternyata hanya masalah kalori.

Dari lima menit menjelang maghrib kita belajar bahwa manusia itu makhluk yang sangat dipengaruhi oleh harapan. Ketika tahu sebentar lagi boleh berbuka, rasa lapar terasa lebih ringan dibanding saat tidak tahu kapan akan makan. Harapan mengurangi beban. Kepastian waktu menghadirkan ketenangan.

Maka mungkin puasa sedang melatih kita untuk memahami hidup secara lebih luas. Bukankah banyak fase kehidupan terasa berat karena kita tidak tahu kapan selesainya? Ramadhan memberi simulasi: bertahanlah, waktunya jelas, adzannya pasti datang.

Dan ketika adzan itu akhirnya terdengar, kita sadar bahwa yang paling nikmat bukan hanya makanannya, tetapi keberhasilan menahan diri sampai akhir.

(*)