Tarawih itu unik. Secara fiqh fleksibel. Secara praktik elastis, tergantung imamnya.Ada malam ketika tarawih terasa seperti sedang mengikuti kejuaraan dunia “Gerakan Paling Efisien.”
Takbir pembuka baru selesai, makmum masih menyesuaikan niat, tahu-tahu sudah ruku’.
Mode ini biasa disebut jamaah sebagai: Tarawih Mode Balap.
Al-Fatihah dibaca dengan satu napas yang membuat kita bertanya dalam hati,“Ini tajwidnya gimana?”
Sujudnya presisi. Duduk di antara dua sujud seperti pit stop Formula 1.Belum sempat doa lengkap, sudah lanjut lagi.
Selesai 8 rakaat, seperti naskah proklamasi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Tapi ada juga malam ketika imam sedang dalam mode “Director’s Cut Edition.”Setiap ayat diberi jeda dramatis.Tajwidnya matang. Napasnya stabil.Makmum? Mulai sibuk menghitung jumlah rakaat.
Rakaat keempat terasa seperti perjalanan spiritual sekaligus uji ketahanan paha.Anak kecil mulai pindah posisi seperti pemain catur.
Yang di belakang mulai shifting berat badan kanan-kiri demi sirkulasi darah.Dan di sinilah iman bertemu realita lutut.
Lucunya, respons kita sering bukan soal kekhusyukan, tapi soal durasi. Kalau cepat “Alhamdulillah, imamnya pengertian.” Kalau lama: “Malam ini full version.”
Padahal kalau dipikir, di luar Ramadhan kita bisa berdiri dua jam nonton konser. Bisa duduk tiga jam nonton film tanpa merasa dizalimi. Tapi berdiri empat puluh menit dalam tarawih, betis langsung kirim sinyal protes.
Tarawih sebenarnya bukan lomba cepat-cepatan. Juga bukan lomba tahan lama. Ia latihan konsistensi hadir. Mode balap menguji fokus kita. Mode panjang menguji sabar kita.
Keduanya sah. Keduanya ibadah.Yang berbeda hanya tempo, bukan nilainya.
Mungkin yang perlu diperbaiki bukan kecepatan imam. Tapi ekspektasi makmum.Karena ibadah yang matang bukan yang selalu sesuai preferensi, melainkan yang tetap dijalani meski ritmenya di luar zona nyaman.
Dan pada akhirnya, yang dicatat bukan berapa menit tarawih selesai.Tapi berapa persen hati kita benar-benar ikut berdiri.
(*)
Alat AksesVisi