Ada satu kekuatan super yang muncul setiap menjelang maghrib: imajinasi.
Imajinasi ini bekerja lebih cepat dari jaringan internet dan lebih liar dari promo gratis ongkir. Ia mampu mengubah satu rasa lapar sederhana menjadi pesta kuliner.
Masalahnya, di era sekarang imajinasi tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh aplikasi pesan makanan.
Pukul 16.00, kita buka aplikasi “cuma lihat-lihat.” Lima menit kemudian, imajinasi sudah menyusun menu seperti panitia buka bersama: kolak, es buah, pisang ijo, jalangkote, ayam bakar, gorengan, dan minuman yang gambarnya terang dan diskonnya meyakinkan.
Padahal aslinya? Kita cuma butuh air dan sesuatu yang manis.
Secara psikologis ini masuk akal. Saat gula darah turun, otak memperbesar bayangan kenikmatan. Foto makanan terlihat lebih tajam. Deskripsi menu terasa lebih puitis. Diskon 50% terdengar seperti panggilan hidup.
Imaginasi memperindah. Algoritma memperkuat.
Kolaborasi yang sulit dikalahkan.
Lucunya, tombol “Checkout” sering ditekan bukan karena kebutuhan, tetapi karena rasa takut ketinggalan promo. Seolah-olah kalau tidak pesan sekarang, hidup akan kehilangan makna.
Pesanan datang. Meja penuh. Hati bangga. Adzan berkumandang. Kita minum, makan kurma, lalu kenyang. Di situlah imaginasi dan realitas duduk berdampingan dalam keheningan.
Ternyata yang besar itu imajinasinya, bukan kapasitas lambungnya.
Fenomena ini sangat relate dengan kehidupan hari ini. Kita hidup dalam zaman yang memberi ruang besar pada imaginasi. Media sosial, iklan, promo, semua mendorong kita untuk merasa kurang dan ingin lebih. Sedikit lapar terasa darurat. Sedikit bosan terasa harus diatasi sekarang juga.
Ramadhan datang seperti pelatih pengendalian diri. Ia tidak melarang menikmati. Ia hanya mengajarkan jeda. Jeda antara ingin dan perlu. Jeda antara lihat dan beli. Jeda antara imajinasi dan keputusan.
Karena tidak semua yang terlihat lezat harus dimiliki. Tidak semua diskon harus ditebus. Dan tidak semua imaginasi harus diwujudkan. Kadang yang perlu dilatih bukan cara memesan, tetapi cara menahan.
Sebab pada akhirnya, kepuasan terbesar bukan pada notifikasi “Pesanan Anda sedang diantar,”
melainkan pada momen ketika kita sadar: kita bisa lapar, kita bisa tergoda, kita bisa berimajinasi, tapi kita tetap memilih untuk mengendalikan diri.
(*)
Alat AksesVisi