Gambar Roasting Ramadan Hari ke-17: Bacalah

Hari ke-17 Ramadhan sering dikenang sebagai malam ketika Al-Qur'an diturunkan kepada Muhammad melalui malaikat Jibril. Peristiwa itu dikenal sebagai Nuzulul Qur'an.

Yang menarik, wahyu pertama itu hanya satu kata: iqra. Bacalah.

Kalau dipikir-pikir, mengapa harus “bacalah”? Mengapa bukan “berjalanlah”, “bekerjalah”, atau “berbicaralah”?

Salah satu jawabannya mungkin sederhana: karena manusia itu… malas membaca. Buktinya mudah ditemukan. Toilet sudah di depan mata, tulisannya besar “TOILET”, tetap saja ada yang bertanya, “Maaf, toiletnya di mana?” Padahal tinggal baca.

Fenomena serupa juga terjadi pada tulisan saya. Panjang, iya. Dibaca? Entahlah. Paling hanya segelintir orang. Tapi tidak apa-apa, karena tugas saya memang menulis. Soal dibaca atau tidak, itu sudah di luar wewenang saya.

Lucunya lagi, sekarang orang bisa baper hanya karena chat WhatsApp sudah dibaca tetapi belum dibalas. Seolah-olah membaca harus selalu diikuti dengan membalas. Padahal ayatnya hanya mengatakan iqra, bacalah. Tidak ada tambahan ayat “balaslah”.

Belum lagi dalam urusan rumah tangga. Suami telat membalas chat sedikit, langsung dicurigai selingkuh. Centang satu dan centang dua berubah fungsi menjadi alat ukur kesetiaan.

Padahal kalau setiap pesan harus dibalas dalam hitungan detik, bisa-bisa pekerjaan suami hanya menatap layar hp, bukan lagi mencari nafkah. 

Akhirnya kita hidup di zaman yang agak aneh.

Orang rajin membaca chat, tetapi malas membaca keadaan. Cepat menyimpulkan, tetapi lambat memahami.

Padahal iqra mungkin tidak hanya berarti membaca tulisan. Ia juga bisa berarti membaca situasi, membaca perasaan orang lain, dan membaca dunia dengan akal sehat.

Karena membaca yang sebenarnya bukan sekadar melihat huruf. Membaca adalah memahami. 

Dan mungkin itulah pesan halus dari kata pertama yang turun pada malam itu: bahwa sebelum manusia sibuk berbicara, menilai, dan menyimpulkan, ada satu hal yang perlu dipelajari lebih dulu. Belajar membaca dengan benar.

(*)