Gambar Roasting Ramadan Coretan Terakhir: Hari Lebaran

Pagi ini terasa berbeda. Tidak ada sahur. Tidak ada alarm yang dipasang dengan niat setengah ikhlas. Tidak ada negosiasi sunyi antara kantuk dan kewajiban. Dan untuk pertama kalinya setelah sebulan, kita bangun tanpa harus menahan apa pun.

Secara teknis, ini adalah hari kemenangan. Tapi entah kenapa, ada bagian kecil dalam diri yang justru terasa kehilangan. Selama sebulan, kita hidup dalam ritme yang tidak biasa. Menahan yang ingin dilakukan. Melakukan yang sering ditunda. Dan diam-diam, kita menjadi versi diri yang sedikit lebih terjaga.

Kita mungkin tidak berubah sepenuhnya. Tapi kita sempat merasakan bagaimana rasanya hidup dengan lebih sadar. Dan pagi ini, semua itu seperti dilepas perlahan. Takbir berkumandang. Orang-orang saling mengucapkan selamat. Pakaian terbaik dikeluarkan. Senyum dibagikan lebih mudah dari biasanya.

Namun di balik semua itu, ada satu momen yang selalu jujur: ketika kita berdiri dalam shalat Id. Di antara takbir yang berulang, di antara kerumunan yang serentak, ada ruang kecil dalam hati yang tiba-tiba terasa penuh. Bukan karena bangga telah menyelesaikan, tapi karena sadar, kita baru saja ditinggalkan oleh sesuatu yang baik. Dan kita tidak tahu, apakah kita sudah cukup baik selama bersamanya.

Hari ini kita saling bermaafan. Mengucapkan kata-kata yang mungkin sudah lama tertunda. “Maaf lahir dan batin.” Kalimat yang sederhana, tapi seringkali lebih jujur dari semua percakapan kita selama setahun.

Ada yang mengucapkannya dengan ringan, ada yang menahannya karena terlalu berat, dan ada juga yang diam karena tidak tahu harus mulai dari mana. Namun justru di situlah maknanya. Bahwa menjadi manusia bukan tentang tidak pernah salah, tapi tentang berani kembali meskipun dengan suara yang pelan.

Setelah itu, kita pulang.Ke rumah.Ke keluarga. Ke orang-orang yang, entah bagaimana, selalu menjadi bagian dari cerita kita. Ada yang masih lengkap. Ada yang sudah berkurang. Ada kursi yang dulu terisi, hari ini hanya tinggal kenangan. 

Dan di momen itulah, Lebaran tidak lagi sekadar perayaan, ia berubah menjadi pertemuan dan juga kehilangan. Kita makan bersama. Tertawa. Bercerita. Namun di sela-sela itu, ada jeda-jeda kecil di mana kita tiba-tiba diam, mengingat seseorang yang dulu ada dan sekarang hanya bisa kita doakan.

Lucunya, setelah sebulan kita menahan lapar dan haus, hari ini kita makan dengan lebih leluasa, tapi tidak selalu dengan rasa yang sama. Karena ternyata, yang membuat sesuatu terasa penuh bukan hanya karena ia tersedia, tapi karena kita pernah tidak memilikinya.

Ramadhan telah mengajarkan kita menahan. Dan hari ini, Lebaran mengajarkan kita merasakan. Merasakan nikmat yang sederhana. Merasakan kehadiran yang sering kita anggap biasa. Merasakan waktu yang tidak pernah benar-benar bisa kita ulang.

Dan di antara semua itu, ada satu pertanyaan yang pelan-pelan muncul: Apakah kita akan tetap menjadi diri yang kemarin kita latih, atau kembali menjadi diri yang dulu kita kenal? 

Karena jujur saja, yang paling sulit dari Ramadhan bukan menjalaninya, tapi mempertahankannya setelah ia pergi. Hari ini adalah penutup, tapi sekaligus ujian pertama.

Apakah sabar itu hanya milik bulan kemarin, atau sudah menjadi bagian dari diri kita?

Apakah kita hanya kuat karena suasana, atau karena kita benar-benar belajar sesuatu?

Dan mungkin, di tengah pelukan keluarga, di antara suara tawa dan air mata yang tidak sepenuhnya terlihat, kita mulai memahami satu hal yang sederhana: Bahwa Ramadhan tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berhenti hadir sebagai waktu, dan mulai hidup sebagai kemungkinan di dalam diri kita.

Jika selama sebulan kita berhasil menahan diri dari yang dilarang, maka setelah ini, tantangannya adalah: mampukah kita tetap memilih yang baik tanpa ada yang memaksa?

Dan jika hari ini kita merasa bahagia, semoga itu bukan hanya karena kita bebas dari kewajiban, tapi karena kita pernah diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik. Di ujung semua ini, mungkin yang paling jujur bukanlah ucapan “selamat”, tapi doa yang pelan: Semoga yang kita lakukan diterima. Semoga yang kurang dimaafkan. Dan semoga kita masih diberi waktu untuk memperbaiki yang tersisa.

Karena pada akhirnya, yang membuat air mata di hari Lebaran jatuh bukan hanya karena bahagia, tapi karena kita tahu, sesuatu yang begitu indah, baru saja selesai dan kita tidak pernah benar-benar siap kehilangannya.

Selamat Hari Raya. Semoga yang pergi hanyalah bulannya, bukan kebiasaan baik yang diam-diam telah kita bangun di dalamnya.

Tulisan ini sekaligus akhir dari coretan roasting ramadhan. Semoga memberi manfaat setidaknya membantu anda mengingat jumlah puasa yang terlewati selama Ramadhan. 

Wassalamualaikum wr. wb.