Ada satu gagasan tua yang terus muncul dalam sejarah pemikiran manusia: bahwa semesta tidak diam. Ia senantiasa bergerak menuju bentuk keberadaan yang lebih sadar. Ia berevolusi, tetapi bukan seperti teori Darwin yang berbasis seleksi alam materialistik.
Jalaluddin Rumi pernah menulis dalam Masnawi-nya: “Aku mati sebagai mineral lalu menjadi tumbuhan. Aku mati sebagai tumbuhan lalu menjadi hewan. Aku mati sebagai hewan lalu menjadi manusia.”
Bagi para sufi falsafi, wujud hadir secara bertingkat. Dari benda mati lahir kehidupan. Dari kehidupan sederhana muncul kesadaran yang lebih kompleks. Mineral menjadi tumbuhan. Tumbuhan menjadi hewan. Hewan menjadi manusia. Dan manusia sendiri belum selesai. Ia bukan titik akhir, melainkan hanya satu fase.
Di atas manusia masih ada kemungkinan lain: kesadaran yang lebih jernih dan keberadaan yang lebih dekat kepada Yang Mutlak. Manusia dapat berikhtiar menjadi “Man of Allah”, seperti judul buku Seyyed Hossein Nasr. Figur al-insan al-kamil, yang diasosiasikan dengan Nabi saw.
Mulla Sadra menyebut proses ini sebagai al-ḥarakah al-jawhariyyah (gerak substansial). Menurutnya, gerak tidak hanya terjadi pada permukaan benda, tetapi pada wujud itu sendiri. Semesta bukan kumpulan benda yang bergerak, melainkan gerak itu sendiri. Suatu perjalanan terus-menerus menuju kesempurnaan (istikmal an-nafs).
Menariknya, gagasan seperti ini juga sudah muncul dalam Risalah Ikhwan al-Safa’ pada abad ke-10. Dan berabad-abad kemudian muncul lagi dalam pemikiran Pierre Teilhard de Chardin. Semuanya melihat kosmos (baik makro maupun mikro) sebagai perjalanan panjang menuju kesadaran yang lebih tinggi.
Seyyed Hossein Nasr mengingatkan bahwa alam bukan benda mati yang siap dieksploitasi. Alam adalah realitas sakral. Dari mineral sampai malaikat, semuanya berada dalam satu tatanan spiritual. Semuanya memuji (dan bergerak menuju) Allah al-Maṣīr.
Nasr mengkritik evolusi modern yang melihat perjalanan kehidupan sebagai proses horizontal dalam waktu semata, tanpa tujuan dan hierarki nilai. Padahal, dalam pandangan tradisional, hidup adalah perjalanan vertikal. Setiap tingkat wujud adalah “ide” dalam tatanan Ilahi yang turun ke alam materi, lalu terus mencari jalannya kembali ke Atas.
Dalam kerangka inilah hewan kurban bukan sekadar protein. Ia adalah wujud yang sedang dalam perjalanan pulang. Biasanya kita melihat hewan kurban hanya sebagai objek ritual. Padahal, bila memakai cara pandang kosmis tadi, hewan itu juga sedang berada dalam perjalanan eksistensialnya sendiri.
Dan ada satu mekanisme penting di balik perjalanan itu: makan. Agar mineral naik menjadi tumbuhan, ia harus larut menjadi unsur tanah lalu diserap akar tumbuhan. Agar tumbuhan naik menjadi hewan, ia harus dimakan. Agar hewan naik menjadi manusia, ia juga harus dimakan, menjadi energi bagi pikiran dan kesadaran manusia.
Dalam konsep ini, “dimakan” bukan berarti kekalahan, melainkan lompatan wujud menuju tingkat yang lebih tinggi. Dan yang tampak seperti kematian sesungguhnya adalah kelahiran dalam bentuk lain. Seperti ungkapan yang dinisbahkan kepada Ali ibn Abi Talib: “An-nāsu niyām, fa idzā mātū intabahū.” Manusia itu tertidur. Ketika mereka mati, barulah mereka terbangun.
Namun kenaikan, atau evolusi spiritual itu, bergantung pada siapa yang memakan. Maka jika “takdir” hewan itu baik, ia masuk ke dalam tubuh manusia saleh, yang hidupnya penuh syukur, ketaatan, dan kepedulian, maka ia ikut terangkat. Ia menjadi bagian dari tubuh yang sujud, pikiran yang merenung, dan hati yang mencintai. Jika takdirnya buruk, maka bisa dibayangkan sendiri.
Karena itu, kurban terasa lebih dari sekadar ritual penyembelihan. Seekor sapi yang disembelih atas nama Allah, lalu dagingnya dibagikan dan dimakan dalam rasa syukur, sesungguhnya sedang menyelesaikan satu babak panjang perjalanannya: dari tanah, rerumputan, lalu menuju manusia.
Tentu ini bukan penjelasan biologis modern. Ini adalah cara simbolik dan metafisik membaca semesta. Cara pandang seperti ini membuat hubungan manusia dengan hewan menjadi lebih setara dan mulia. Hewan yang disembelih itu bukan benda mati. Ia sesama musafir, atau mitra dalam perjalanan panjang semesta kembali kepada Asal: wa ilallāhil-maṣīr.
Karena itu pula, agama mengajarkan agar dalam ritual penyembelihan hewan harus ada rasa kasih. Jiwa kebinatangan justru harus ditekan setinggi mungkin. Rasa sakit diminimalkan dengan meringkus secara efektif, menyembelih dengan pisau tajam, serta membaca basmalah dan takbir. Mirip dengan doa kita: “Allahumma hawwin ‘alaina fi sakaratil maut”. Ya Allah, mudahkanlah sakaratul maut kami. Tujuannya sama: agar proses evolusi ruhaniah berlangsung sekurang menyakitkan mungkin. Sebab semua proses perubahan, apalagi evolusi total diri, pasti selalu menyakitkan.
Dan manusia sendiri belum selesai. Jika mineral bergerak menuju tumbuhan, tumbuhan menuju hewan, dan hewan menuju manusia, maka pertanyaannya tinggal satu: manusia sedang bergerak menuju apa? Ada manusia yang bergerak menuju cahaya. Ada pula yang bergerak menuju kehancuran dirinya sendiri setelah menghancurkan manusia lain dan alam.
Maka boleh jadi sapi atau kambing yang meronta kuat saat akan disembelih sebagai hewan kurban itu sudah mendeteksi bahwa yang akan berkurban dan memakannya adalah manusia yang durhaka kepada sesama, kepada alam, dan kepada Tuhan. Yang beragama sekadar ritual, simbol, dan tameng sosial belaka (kapojiang/pojiale).
Jika demikian, calon hewan kurban itu mungkin akan memilih tetap menjadi hewan saja daripada “naik kelas” (malah turun kelas) menjadi manusia yang telah kehilangan kemanusiaannya. Yaitu manusia yang lebih rendah daripada binatang: “Ulā’ika kal-an‘āmi bal hum adhall” (QS. Al-A‘raf: 179) (mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi).