Besok, Rabu 10 Zulhijah 1447 Hijriah bertepatan dengan tanggal 27 Mei 2026 Masehi, umat Islam akan merayakan Iduladha atau Hari Raya Kurban disebut juga Hari Raya Haji. Kata “kurban” masih seakar dengan kata “karib” dalam bahasa Indonesia yang bermakna dekat. Sahabat karib artinya teman dekat. Idulkurban memiliki pesan yang mendasar, hendaknya manusia selalu menjalin kedekatan dengan Tuhan agar tidak sesat dalam menjalani hidupnya; karena sesungguhnya kita semua milik-Nya, dari-Nya kita berasal, dan kepada-Nya kita kembali.
Sejarawan Ibnu Jarir At-Thabary menyebutkan bahwa urban adalah tradisi kenabian, hampir semua perjuangan Nabi dan Rasul bermuatan pengorbanan. Untuk pertama kalinya Qabil dan Habil keturunan Adam Alaihisalam melakukan Kurban, Qabil adalah seorang petani mengorbankan hasil pertaniannya yang tidak berkualitas ditolak oleh Allah karena didasari dengan kedengkian dan hawa nafsu. Sementara Habil adalah seorang peternak memilih ternaknya yang terbaik untuk dikurbankan, diterima Allah karena didasari dengan takwa dan keikhlasan.
Nuh Alaihisalam yang diutus Allah menyertai kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun (sembilan ratus lima puluh tahun) namun kebanyakan dari umatnya termasuk istri dan anak Nuh Alaihisalam enggan mengikutinya. Allah kemudian mengilhamkan kepada Nuh untuk membuat bahtera (perahu), untuk digunakan Nuh dan kaumnya yang taat pada waktu malapetaka datang.
Ketika malapetaka berupa banjir menenggelamkan semua yang ada termasuk gunung yang tinggi yang ditunjuk oleh istri Nuh dan anaknya tidak dapat menyelamatkan mereka, kecuali Nuh dan kaumnya yang taat. Ketika perahu (bahtera) Nuh berlabuh di satu tempat, Nuh dan kaumnya menyembelih Kurban.
Ibrahim dan Ismail Alaihisalam melanjutkan tradisi berkurban, melalui peristiwa ini Ibrahim Alaihisalam memperoleh gelar sebagai Al-Khalil (kekasih Allah) karena dua hal: Pertama, kerelaan Ibrahim mengorbankan sesuatu yang sangat dicintai yakni anaknya Ismail, karena keikhlasan Ibrahim, Allah mengganti Ismail dengan seekor binatang sembelihan. Kedua, kedermawanan Ibrahim. Sejarah menyebutkan setiap kali Ibrahim memperoleh rezeki dari Allah, dia senantiasa mengajak orang lain untuk menikmati rezeki yang diperolehnya.
Setiap hari Raya Iduladha, Nabi Muhammad saw, membeli dua ekor domba, gemuk, bertanduk, kulit dan bulunya putih bersih. Setelah memimpin salat dan berkhotbah, nabi kemudian meletakkan kakinya di sisi domba kemudian menyembelih dengan tangannya sendiri sambil berkata: “Ya Allah terimalah ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad”, sementara domba yang satu, nabi berucap: “Ya Allah terimalah ini dari umat Muhammad yang tidak mampu”.
Pada beberapa kesempatan nabi berpesan: ada tiga hal yang wajib bagi diriku, dan sunat buat umatku. Ketiga hal itu adalah: salat witir, salat duha, dan berkurban. Karena itu, berkurban adalah sunat muakkad (sunat yang sangat utama) sehingga setiap kepala keluarga muslim disunahkan berkurban setiap Iduladha. Bagi yang mampu dapat dilaksanakan secara tunai, urunan (berkelompok), invest (cicilan). Yang tidak mampu sama sekali akan memperoleh pahala dari niat ikhlas mereka yang berkurban. Hasil akhirnya adalah kebersamaan, keberpihakan, dan kesetiakawanan sosial.
Ibadah Kurban akan sangat dangkal maknanya, jika hanya berorientasi pahala dan ampunan dosa saja, melainkan dimaksudkan mengasah kepekaan sosial yang kini tampak tumpul dan terabaikan. Perlu disadari, yang dibutuhkan masyarakat saat ini bukan hanya sepotong daging Kurban, tetapi masyarakat membutuhkan: pendidikan yang berkualitas, pelayanan kesehatan, lapangan kerja, kesejahteraan hidup, ketertiban dan keamanan.
Jika ibadah puasa mengajak kita untuk merasakan lapar seperti yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang lapar permanen, maka Kurban mengajarkan kita untuk mengajak saudara-saudara kita yang lapar untuk merasa kenyang seperti yang sering kita rasakan. Kalau ibadah pisik yang paling utama adalah salat, maka ibadah harta yang paling utama adalah Kurban. Selamat berkurban, semoga mempertajam kepekaan sosial terhadap sesama. (*)
Alat AksesVisi