Tepat hari ke-14 Ramadhan, usai menyaksikan tayangan televisi, saya termenung. Betapa tipis batas antara kesalehan dan kebengisan.
Kita memiliki naluri mempertahankan hidup, kerap berujung tindakan mematikan—dari nyamuk, lalat, hingga kecoak.
Musim hujan seperti ini, semut berbaris memasuki ruang tamu tanpa permisi. Kita refleks meraih semprotan serangga atas nama kenyamanan dan keselamatan. Semut-semut itu menemui ajal. Lalu muncul tanya lirih: siapa sebenarnya mematikan mereka? Tuan rumah atau Tuhan?
Pertanyaan kecil itu, bila ditarik panjang, menjelma bahasan teologis tak sederhana.
Demi rasa aman, binatang kerap dieksekusi tanpa iba.
Naluri bertahan hidup kadang naik kelas menjadi hobi “mengadu”—jangkrik diadu, ayam dipertarungkan, adu domba, meningkat menjadi adu banteng di negeriku, bahkan manusia saling menghantam di ring tinju. Dunia adu pun kerap diselimuti tipu daya bernuansa satir.
Saya teringat seorang pria membawa jangkrik kurus ke arena taruhan. Sekali adu, lawan bertubuh besar langsung tumbang “Marenne’ Cui-cui”.
Saat ditanya rahasia, ia berbisik, “Sebenarnya ini bukan jangkrik, Bro. Ini kecoak habis ikut kursus karate dan saya cat hijau.”
Dari arena kecil itu, saya melihat miniatur dunia. Dunia persenjataan tak ubahnya “kecoak karate”: mesin pembunuh massal berbalut kosmetik teknologi dan inovasi.
Di sanalah ironi bersemayam. Ilmuwan belajar tinggi-tinggi, membedah atom demi kenyamanan hidup manusia—namun di tangan kekuasaan, kecerdasan berubah arah.
Orang sering berkata, “Hidup harus punya tujuan.” Benar. Tetapi jangan tergesa sampai tujuan. Pintu kematian tak menyediakan refund, apalagi tiket pulang. Di tangan penguasa haus kuasa—di berbagai pusat kekuasaan dunia—kecerdasan dipinjam guna melegitimasi pembunuhan. Teknologi mengalami degradasi fungsi: semula membangun (1 + 1 = 2), lalu memusnahkan (1 - 1 = 0).
Dunia rela membakar triliunan dolar demi satu hulu ledak, tetapi mendadak amnesia ketika diminta mengalokasikan recehan guna menghapus lapar anak-cucu Adam korban perang.
Inilah tragedi intelektualitas modern: kita mahir memacu kecepatan teknologi, namun kehilangan rem kemanusiaan.
Kepintaran tanpa agama ibarat mobil sport tanpa rem—melaju memukau, berakhir pada tabrakan spektakuler menuju kematian massal.
Manusia sejatinya memiliki naluri hidup kuat. Kemarin, saat hendak membawakan pengajian, saya memacu kendaraan agak kencang. Di bawah flyover AP Pettarani, saya nyaris menabrak seorang pemalak jalanan bertato.
Seketika, pria garang dengan tubuh berhias tinta permanen itu berteriak, “Astagfirullaah...”
Saya tersenyum getir. Preman paling sangar pun spontan menarik rem darurat spiritual saat nyawa terancam.
Ia takut mati, tetapi saban hari mengisap rokok berbungkus-bungkus tanpa jeda. Barangkali ingin menjemput kematian perlahan dalam kepulan asap terasa nikmat.
Jika pemalak saja memiliki alarm spiritual guna menjaga nyawa, mengapa sebagian pemimpin dunia mengaku jenius justru begitu ringan melenyapkan nyawa orang lain?
Logika “ingin hidup” tampaknya kerap diputus dalam kalkulasi militer. Seolah ada pihak bosan menunggu kiamat ketetapan Tuhan, lalu menjalankan simulasi kiamat versi manusia.
Ironis, kita menciptakan teknologi medis guna memperpanjang usia, sekaligus merakit rudal pemangkas jutaan umur menjadi nol detik dalam sekejap.
Jika ini terus berlanjut, saya khawatir malaikat Israfil justru keduluan sirene nuklir buatan manusia.
Kematian tak pernah tunduk pada protokol kepresidenan. Tragedi jatuhnya helikopter merenggut nyawa Presiden Iran baru-baru ini menjadi pengingat keras: di puncak kekuasaan sekalipun, manusia tetap rapuh di hadapan takdir.
Seandainya kematian bisa dijadwalkan, mungkin ada penguasa meminta penundaan, “Maaf, masih ada cicilan… proyek belum rampung.” Namun malaikat maut tak memerlukan izin mendarat. Di depan pintu kematian, tak ada rem mampu menahan laju ajal.
Maka sebelum ciptaan sendiri memusnahkan kita, sudah saatnya kembali pada fitrah. Solusi bukan pada seberapa hebat rudal dimiliki, melainkan pada seberapa mampu menjinakkan ego.
Puncak tertinggi manusia bukan menaklukkan dunia dengan senjata, melainkan menaklukkan diri melalui pengendalian.
Menghormati Ramadhan berarti menahan diri dari hasrat “merasa jadi Tuhan” dengan teknologi pemusnah di tangan.
Jangan sampai kita lancar berpuasa, tetapi gagal menjadi manusia.
Rabu, 14 Ramadan 1447 H / 4 Maret 2026 MSK
Alat AksesVisi