Setelah beberapa hari berpuasa, seseorang biasanya tidak lagi sibuk menghitung jam menuju maghrib. Justru yang muncul perlahan adalah kepekaan. Kita mulai memperhatikan hal-hal kecil: air putih terasa nikmat, nasi sederhana terasa istimewa, dan kurma sebutir terasa cukup. Di sinilah rahasia puasa, Allah tidak hanya mengurangi makanan kita, tetapi menumbuhkan rasa syukur kita.
Sebagian pakar kesehatan dan perilaku menyebut puasa sebagai latihan reset persepsi kenikmatan. Ketika seseorang terbiasa berlimpah, otak mengalami adaptation kenikmatan menjadi biasa. Akibatnya, yang banyak tidak lagi terasa cukup. Puasa membalik keadaan itu, ketika lapar beberapa jam, air menjadi sangat berharga, makanan sederhana terasa lezat, tubuh kembali mengenali nikmat dasar kehidupan.
Artinya puasa bukan membuat hidup kita sempit, melainkan mengembalikan kemampuan kita menikmati yang sederhana. Orang yang mampu menikmati yang sedikit biasanya lebih tenang hidupnya dibanding orang yang hanya bahagia ketika banyak.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa lapar dalam puasa memiliki hikmah spiritual: ia melembutkan hati dan mematahkan kesombongan. Perut kenyang sering melahirkan kelalaian, sementara lapar melahirkan kesadaran. “Perut yang terlalu kenyang membuat hati tidur, sedangkan lapar membangunkan jiwa.”
Hari keenam biasanya seseorang mulai merasakan perubahan seperti;
shalat terasa lebih khusyuk, doa terasa lebih serius, dan al-Qur’an lebih mudah menyentuh perasaan. Bukan karena Ramadhan berubah, tetapi karena hati mulai terbuka.
Dikisahkan seorang murid bertanya kepada sufi besar Rabi’ah Al-Adawiyah, “Wahai Rabi’ah, mengapa engkau sering berpuasa, padahal engkau sudah sangat dekat dengan Allah?”. Rabi’ah menjawab, “Aku tidak berpuasa karena kuat. Aku berpuasa karena aku lemah. Saat lapar, aku ingat bahwa aku hanyalah hamba, dan saat berbuka aku tahu semua nikmat bukan milikku.” Sang Murid itu berkata, “Apakah lapar itu menyakitkan?”, Rabi’ah tersenyum: “Lapar bagi tubuh memang sakit, tetapi bagi hati ia adalah obat.”
Pada hari keenam, kita mulai memahami bahwa puasa bukan sekadar ibadah wajib, tetapi cara Allah memperbaiki rasa kita terhadap hidup. Pada saat tersebut seseorang akan lebih menghargai makanan, lebih peduli kepada orang miskin, lebih mudah berterima kasih, lebih jarang mengeluh.
Karena sebenarnya yang ingin diubah oleh Ramadhan bukan jadwal makan kita
melainkan cara kita memandang nikmat.
Mereka yang setelah Ramadhan masih merasa semua kurang, berarti ia hanya menahan lapar. Tetapi orang yang setelah Ramadhan mudah bersyukur, berarti ia telah menemukan makna puasa.
Allah A’lamMakassar, 24 Februari 2024(*)
Alat AksesVisi