Ramadhan adalah musim paling jujur dalam kalender ruhani manusia. Ia datang bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menyingkap apa yang tersembunyi di balik dada.
Di bulan ini, amal membesar nilainya, doa dilangitkan dengan harap, dan masjid kembali penuh oleh wajah-wajah yang merindukan ampunan. Namun di saat yang sama, Ramadhan juga menjadi cermin paling tajam, ia memantulkan bukan hanya keikhlasan, tetapi juga kecenderungan (tendensi) yang tersembunyi.
Apa itu tendensius?Tendensius adalah sikap yang digerakkan oleh kepentingan tertentu, tersembunyi atau terselubung. Ia bukan selalu keburukan yang tampak kasar, seringkali ia hadir dalam pakaian kebaikan. Di situlah problemnya, ketika kesalehan tidak lagi murni sebagai ibadah, melainkan diboncengi ambisi, popularitas, kuasa, citra, atau pengaruh.
Ramadhan sejatinya adalah madrasah ikhlas. Allah SWT. berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ... لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183).
Tujuan puasa adalah takwa, bukan tepuk tangan.Namun realitas sosial sering memperlihatkan paradoks, ibadah dipertontonkan, sedekah dipublikasikan, dakwah dipolitisasi, bahkan kesederhanaan dikemas menjadi strategi citra.
Di sinilah kita perlu mengingat peringatan Allah:فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.”(QS. Al-Ma’un: 4–6)
Ayat ini mengguncang kesadaran, bahkan shalat pun bisa kehilangan ruhnya ketika niatnya bergeser. Riya adalah wajah paling nyata dari tendensi spiritual, beramal bukan karena Allah, tetapi karena manusia. Rasulullah SAW mengingatkan dengan sangat halus namun tajam:إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar kaidah fikih, ia adalah fondasi etika spiritual. Amal yang sama bisa bernilai surga atau hampa, tergantung niat yang menggerakkannya. Lebih menggetarkan lagi sabda beliau SAW. أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُPara sahabat bertanya: “Apakah itu, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab: الرِّيَاءُ” Riya.”(HR. Ahmad).
Riya disebut sebagai syirik kecil, bukan karena ia ringan, tetapi karena ia tersembunyi. Ia halus, masuk melalui ambisi yang tampak wajar.Ali bin Abi Thalib RA. berkata:الإخلاصُ أن لا تطلبَ على عملك شاهداً غيرَ الله“Ikhlas adalah ketika engkau tidak mencari saksi atas amalmu selain Allah.”
Betapa dalam maknanya. Ketika amal membutuhkan kamera, pujian, atau legitimasi publik agar terasa bernilai, di situlah ambisi mulai menumpang. Ramadhan mengajarkan sunyi. Puasa adalah ibadah yang paling tersembunyi. Dalam hadis qudsi Allah berfirman:الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Mengapa puasa disebut khusus?Karena ia sulit dipamerkan. Ia melatih integritas, menahan diri ketika tak seorang pun melihat. Jika puasa masih bisa diboncengi ambisi, maka persoalannya bukan pada ritualnya, melainkan pada hati yang belum selesai dibersihkan.
Secara sosial, fenomena tendensius di bulan Ramadhan bisa menjelma dalam berbagai bentuk, politisasi ibadah, eksploitasi simbol agama, hingga komersialisasi kesalehan. Yang berbahaya bukan aktivitasnya, tetapi motif di baliknya. Ketika agama menjadi alat, bukan tujuan, maka kesucian berubah menjadi instrumen. Imam Al-Ghazali mengingatkan:العملُ بغيرِ إخلاصٍ كجسدٍ بلا روح“Amal tanpa keikhlasan seperti jasad tanpa ruh.”
Ramadhan hadir untuk menghidupkan ruh itu kembali. Ia mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah apa yang tampak di mata manusia, tetapi apa yang tercatat di sisi Allah.
Lalu bagaimana solusinya?Pertama, muhasabah, mengoreksi niat sebelum, saat, dan setelah beramal. Kedua, memperbanyak amal tersembunyi yang hanya Allah yang tahu. Ketiga, mengingat kefanaan pujian manusia dan kekekalan penilaian Tuhan.
Allah SWT. mengingatkan:يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.”(QS. Ghafir: 19).
Ayat ini menembus lapisan terdalam ambisi. Tidak ada motif yang benar-benar tersembunyi dari-Nya.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan tentang seberapa ramai kita di panggung kesalehan, tetapi seberapa jujur kita di hadapan Allah. Ia bukan tentang simbol, melainkan substansi. Bukan tentang citra, tetapi cahaya batin.
Jika Ramadhan gagal membersihkan niat, maka yang tersisa hanyalah lapar dan lelah. Tetapi jika ia berhasil memurnikan tujuan, maka setiap detiknya menjadi saksi keikhlasan.
Maka pertanyaannya bukan lagi, apa yang telah kita lakukan di Ramadhan?Tetapi pertanyaan paling mendasar yang perlu kita ajukan dalm diri kita, untuk siapa sebenarnya kita melakukannya?….
#Wallahu A’lam Bis-ShawabSemoga Bermanfaat
Al-Faqir. Munawir Kamaluddin
Alat AksesVisi