Tepat hari ke-15 Ramadhan, saat mengisi tausiyah di Dinas Sosial, saya melihat jamaah antusias menyimak—meski segelintir memilih “mundur teratur” meninggalkan masjid.
Pemandangan ini kontras dengan fenomena “kemajuan” di sejumlah masjid lain. Saya sempat membatin, tampaknya sudah ada kemajuan: shaf makin cepat maju ke depan—bukan karena jamaah bertambah, melainkan karena barisan belakang perlahan menghilang.
Kondisi ini terasa anomali jika dibanding suasana Masjidil Haram. Beberapa tahun saya pernah bermukim di sana sebelum menjadi abdi negara. Saya menyaksikan pemandangan berbanding terbalik.
Semakin mendekati garis finis Ramadhan, jamaah Masjidil Haram justru kian membludak hingga radius dua kilometer dari pelataran luar masjid—saking banyak manusia ingin menutup Ramadhan dengan ibadah terbaik.
Beda di kampung-ku. Malam pertama masjid penuh sesak, malam ke-10 masih padat, malam ke-20 sesak, dan menjelang malam terakhir justru penuh melimpah—bukan jamaah, melainkan “nyamuk”.
Masjid makin melonggar seakan menjadi penanda seleksi alam spiritual sedang berlangsung. Fenomena ini terasa ironis bila dibanding teladan Rasulullah SAW.
Memasuki separuh Ramadhan, kaki Beliau sampai bengkak karena lama berdiri dalam shalat qiyamul lail. Mata beliau pun bengkak—bukan akibat kurang tidur, melainkan sedih memikirkan bulan mulia sebentar lagi berlalu.
Menariknya, kita juga mengalami fenomena “dua pembengkakan”, meski versinya jauh berbeda. Mata bengkak bukan karena rindu Ramadhan, melainkan akibat Nalejjui tinro - kebanyakan tidur.
Kaki pun ikut bengkak, bukan karena munajat berdiri lama, melainkan Najinnai jokka —terlalu rajin berjalan sore berburu takjil, ikut bukber, atau mampir ke mal memantau promosi alias diskon.
Berburu takjil memang ujian berat. Saya kadang membatin,"Ya Allah, jauhkan aku dari godaan warteg tertutup gorden".Lambaian kain gorden tertiup angin itu terasa seperti ujian mujahadah tingkat tinggi bagi perut keroncongan.Dalam kondisi seperti ini, godaan makanan kadang membuat akal sehat sedikit bergeser.
Seorang teman pernah mengalami kejadian. Ia makan siang dengan lahap karena benar-benar lupa sedang berpuasa. Ketika seseorang mengingatkan, ia malah berseloroh, “Seandainya setelah dua piring baru diingatkan, lumayan kenyang.”
Kelucuan semacam ini seolah mengonfirmasi bahwa waktu puasa terasa sangat panjang: sebentar lapar, sebentar tidur, lalu sebentar-sebentar melihat jam menunggu beduk magrib.
Karena terasa panjang, pikiran pun mulai berkelana. Hampir semua jenis minuman “teh” masuk daftar impian berbuka—teh botol sudah, teh poci sudah, Teh Melati sudah, teh herbal juga sudah. Tinggal satu jenis “teh” paling ditunggu, tetapi belum juga tampak wujudnya: Teh Ha Er.
Jika sudah begini, orang mulai mencari berbagai cara agar badan tetap segar menjalani puasa. Ada yang menyarankan minum air kelapa muda atau jamu agar badan terasa lebih muda. Bahkan ada yang berkelakar, resep paling ampuh agar awet muda ialah menambah istri muda.
Bagi saya, itu bukan hanya membuat awet muda, tetapi juga berpotensi membuat “puasa” selamanya—karena dilarang pulang ke rumah oleh istri tua.
Humor semacam ini memang sering menjadi bumbu ringan dalam obrolan Ramadhan.
Namun di balik canda itu, ada pelajaran kecil untuk kita renungkan. Ramadhan seakan melakukan penyaringan alami. Fase pertengahan menjadi ujian kesungguhan kita dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu, mari jadikan momentum ini sebagai lompatan spiritual. Jangan sampai ritme ibadah kendor hanya karena pikiran teralihkan oleh promo baju Lebaran.
Sebab pada akhirnya, Ramadhan bukan tentang siapa paling cepat memulai, melainkan siapa paling tangguh bertahan hingga garis finis.
Kamis, 15 Ramadan 1447 H / 5 Maret 2026 M
Alat AksesVisi