Umat Islam tentu bahagia riang gembira. Kini kembali mendapatkan undangan jamuan dari Allah dengan berbagai bentuk jamuan kuliner yang tentu sangat lezat bagi yang benar-benar aware tentang substansinya. Jamuannya bernama ramadan.
Setiap tahun Ramadan datang membawa suasana yang khas. Masjid ramai, jadwal kajian padat, dan media sosial dipenuhi konten religius. Namun di balik semarak itu, ada pertanyaan mendasar: apakah Ramadan benar-benar mengubah cara kita hidup, atau sekadar mengubah jadwal makan dan tidur? Di sinilah pentingnya cara beragama yang berorientasi pada tujuan.
Para ulama menegaskan bahwa ajaran agama tidak hanya dimaksudkan untuk ditaati secara formal, tetapi untuk menghadirkan kemaslahatan: kebaikan nyata bagi manusia.
Ramadan, dalam kerangka ini, bukan sekadar bulan ritual, tetapi bulan pembentukan kesadaran sosial. Puasa seharusnya melatih kepekaan. Lapar dan haus bukan tujuan akhir, melainkan jalan untuk memahami bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan. Ironisnya, justru di bulan puasa konsumsi sering meningkat. Berburu takjil, buka puasa berlebihan, dan budaya “balas dendam” setelah seharian menahan lapar menjadi pemandangan lazim.
Puasa yang seharusnya mendidik kesederhanaan, terkadang berubah menjadi ajang pemborosan. Kritik ini penting disampaikan bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengajak bercermin. Jika puasa tidak membuat kita lebih peduli pada yang miskin, lebih jujur dalam bekerja, dan lebih santun dalam berbicara, maka ada yang keliru dalam cara kita memaknai Ramadan.
Contoh konkret Ramadan maqasid-based dapat dilihat dari bagaimana zakat, infak, dan sedekah dikelola. Bantuan konsumtif memang penting, tetapi tidak cukup. Lebih bermakna jika dana Ramadan diarahkan pada program pemberdayaan: modal usaha kecil, pelatihan keterampilan, atau beasiswa pendidikan. Dengan cara ini, Ramadan tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menguatkan masa depan.
Kritik sosial lain menyasar kesenjangan antara kesalehan pribadi dan etika publik. Masjid penuh saat tarawih, tetapi praktik curang, suap, dan ujaran kebencian tetap marak. Ini menunjukkan bahwa ibadah belum sepenuhnya melahirkan karakter. Padahal esensi puasa adalah membangun integritas: kesatuan antara apa yang kita ucapkan, kita lakukan, dan kita yakini.
Ramadan maqasid-based menuntut pergeseran orientasi: dari sibuk menghitung rakaat menuju kesungguhan menata akhlak, dari fokus pada simbol menuju kepedulian pada dampak. Jika Ramadan berhasil menjadikan kita lebih jujur, lebih adil, lebih peduli, dan lebih sederhana, maka saat itulah puasa mencapai maknanya yang paling dalam.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang melahirkan manusia yang lebih manusiawi. Mari menyambut Ramadan dengan komitmen bersama dan kesadaran kolektif untuk move on dari beragama Syariah Based menuju Maqasid Based. Selamat menunaikan ibadah Puasa!
(*)
Alat AksesVisi