Gambar Ramadan Kita #9: Santri Instan di Pesantren Ruhaniah

Ramadan sering kita sebut sebagai pesantren ruhaniah. Tempat menempa diri agar layak menyandang gelar muttaqin. Tetapi, tidak semua yang masuk pesantren sungguh-sungguh ingin ditempa.

Di pesantren, ada santri yang mondok karena tekanan orang tua. Ia ikut kelas, hadir di halaqah, taat jadwal. Namun batinnya tidak ikut belajar. Ia hanya menunggu waktu lulus. Secara administratif selesai, tetapi secara batin tidak bertumbuh. Ilmu tidak meresap, adab tidak mengakar.

Bukankah pola ini juga tampak dalam Ramadan?

Ada yang berpuasa sambil menghitung hari menuju Idul Fitri.
Ia rajin tarawih, tetapi memilih masjid yang paling cepat.
Ia antusias bukber yang ramai, tetapi enggan tahajud sendirian di rumah.
Ia selektif dalam ibadah. Yang ringan diambil, yang berat dihindari.
Targetnya selesai, bukan berubah.

Kita lupa satu hukum sederhana.
Tidak ada pembentukan tanpa beban. No pain, no gain.
Agar bermakna dan berdampak, usaha harus: berat, rutin dan lama. 

Di dunia workout, tidak mungkin otot tumbuh jika barbel yang diangkat selalu ringan. Otot terbentuk ketika beban terasa berat, diulang terus, dalam periode waktu lama. Ada rasa pegal, ada lelah. Di situlah serat lama dirombak. Tanpa tekanan, tubuh bertahan pada bentuk semula. Mustahil dapat badan six-pack

Begitu pula Ramadan.
Lapar melatih kendali.
Menahan amarah, melatih kedewasaan.
Qiyamullail melatih daya tahan.
Jika semua dijalani sekadarnya, hasilnya pun sekadar.
Ritual yang tidak menuntut ketahanan dan kesungguhan, kecil peluangnya melahirkan transformasi diri.

Maka pertanyaannya bukan seberapa sering kita hadir di masjid, tetapi apakah kita rela dipaksa keluar dari diri lama, dari zona nyaman. Jika selepas Syawal kita tetap sama, mungkin kita hanya singgah di pesantren ruhaniah, bukan benar benar nyantri.

"Manusia tidak dapat mengubah dirinya sendiri tanpa merasakan penderitaan, karena dia adalah sekaligus marmer dan pematungnya."
-Alexis Carrel-

[WH]