Di banyak tempat, masjid tumbuh cepat. Berlomba meraih status terbesar atau terindah. Kubah makin membesar. Menara makin meninggi. Ornamen makin rumit. Lantai marmer mengilap. Dari kejauhan tampak megah. Namun di dalam, tak selalu bikin khusyuk. Arsitektur berbicara lantang, tapi suasana batin tak selalu ikut tumbuh.
Arsitektur masjid dahulu sering lebih sederhana. Tapi ia hidup karena ada ulama yg menetap, mengajar, membina, dan menjadi rujukan. Nama masjid menyatu dengan nama ulamanya, ada "anregurutta". Orang datang bukan hanya karena bangunan, tapi karena ilmu dan keteladanan yang hadir tiap waktu salat. Nyaris tiap hari.
Contoh yang hidup dalam ingatan kolektif di Sulawesi Selatan adalah Masjid Raya Darussalam, Belawa, Wajo (tempat lahir penulis, hehe). Masjid itu dikenal bukan hanya karena arsitekturnya yang khas dan indah untuk zamannya, tapi karena pernah dibina oleh dua ulama kharismatik, KH. Muh. Yunus Maratan dan KH. Abdul Malik Muhammad. Kehadiran kedua beliau memberi ruh.Ceramah, pengajian, dan pembinaan berlangsung konsisten. Jemaah datang krn ada figur yg dipercaya, diakui dan dihormati.
Dalam tradisi arsitektur spiritual, ruang ibadah dirancang untuk menuntun tubuh merendah, suara mereda, cahaya merona. Saat seseorang melangkah masuk dan bersalat, ruang itu ikut mengantar kepada transendensi. Menyadarkan tentang Yang Transenden. Nuansa semacam ini kian jarang terasa dalam bangunan masjid modern. Yang lebih sibuk menampilkan skala dan ornamen daripada kedalaman pengalaman. Lebih sibuk hitung kas masjid daripada atur jadwal halakah.
Kini tak sedikit masjid berdiri tanpa figur keilmuan yang menetap. Imam berganti. Penceramah silih berganti. Tak ada sosok yang mendedikasikan hidupnya dalam jangka panjang. Masjid megah, tapi anonim. Besar ukurannya, tipis pengaruhnya. Pengurusnya rutin pula bertengkar.
Pertanyaannya sederhana.Masihkah masjid-masjid sekarang masih membentuk manusia?Medium mendekatkan jamaah kepada Allah? Apakah ia menumbuhkan ilmu dan adab yang berkelanjutan?
Masjid bukan sekadar proyek fisik. Bukan pula sekadar objek selfie atau Instagraman. Ia pusat pembinaan. Tanpa ulama yang menyatu dengan denyutnya, bangunan mudah berubah jadi simbol. Kubah menjulang dan banyak, tapi jiwa tetap datar. Masjid terbesar atau terindah terus muncul. Walau dibangun dari hasil korupsi. Atau hasil merusak hutan, merusak bumi, dan merusak masa depan umat manusia.
#RamadanKita#RefleksiRamadanWH#TaatRitualTunaSosial
(*)
Alat AksesVisi