Sejak kecil saya sudah dengar hadis Nabi saw, "Shumu tashihhu." (Berpuasalah, niscaya kalian sehat). Ketika itu, saya menerimanya sebagai petuah normatif belaka. Kini, setelah semakin tertarik membaca riset biomedis populer-praktis, saya merasa gema hadis itu kembali memantul. Kebenaran pesannya menemukan semakin banyak konfirmasi ilmiah mutakhir.
Kini kita tahu bahwa tubuh tidak pasif. Ia menyimpan kecerdasan yang sering tak kita beri kesempatan bekerja. Saat asupan dihentikan beberapa jam, tubuh beralih ke cadangan energi, dan diam-diam menjalankan autophagy, proses pembersihan di tingkat sel. Yang rusak dirapikan, yang tak terpakai disaring. Semua itu bukan reaksi darurat, melainkan kemampuan bawaan yg muncul ketika kita memberi ruang.
Yang menarik, ketika makan tidak lagi berlangsung tanpa jeda, tubuh seperti mendapat waktu istirahat yang jarang ia nikmati. Ritme internalnya menyesuaikan. Beban berlebih berkurang. Kita sering mengira kesehatan datang dari tambahan, padahal kadang ia lahir dari pengurangan. Lapar yang terjaga membuka ruang bagi tubuh untuk bekerja tanpa banyak gangguan.
Namun, dalam tradisi Islam, puasa sejak awal adalah riyadah atau latihan spritual utama para penempuh jalan (salik). Ketika mengulas puasa, Imam al-Ghazali tidak berhenti pada perut, tapi pada lisan, mata, & hati yang perlu dijaga dari hal sia-sia. Puasa hakiki adalah puasa seluruh indera. Menurut Al-Qushayri, mengurangi makan melembutkan hati & memudahkan dzikir. Ketika dorongan fisik mereda & pintu indera ditertibkan, muncul kesadaran yang lebih hening. Di situlah dimensi ruhaniah perlahan terasa & bekerja.
Di sini ada pertemuan yg menarik. Sains berbicara tentang autophagy, pembersihan di tingkat raga. Tasawuf tentang tazkiyatun nafs, pembersihan di tingkat ruh. Keduanya bergerak di wilayah berbeda, tetapi menunjuk pada pola yang sama, perbaikan membutuhkan jeda. Dengan satu ritus, dua dimensi terdampak.
Maka, bulan puasa bukan sekadar ritual tahunan yang selesai saat Lebaran, melainkan anugerah terapeutik dari Allah bagi kesehatan raga sekaligus ruh kita. Di titik inilah sabda Nabi, “Shumu tashihhu”, seakan bergaung dalam cita-cita kebangsaan kita, dengan sedikit modifikasi, “Sehatlah jiwanya, sehatlah badannya, untuk Indonesia Raya.”[WH]
(*)
Alat AksesVisi