Gambar Ramadan Kita #5: Ramadan yang Bermakna & Berdampak

Di masyarakat kita, ritus Ramadan lebih sering dijalani secara komunal drpd personal. Keramaian jadi ukuran. Masjid penuh, buka bersama padat, agenda ngumpul2 nyaris tiap malam. Unsur performatif, seremoni, & makan2 lebih tampak drpd keheningan batin.

Dlm setiap laku, niat menentukan arah sekaligus bobotnya. Nabi mengingatkan, amal tergantung niat. Jika niatnya akumulasi pahala secara matematis, mungkin tabungan akhirat terasa aman. Tapi selepas Ramadan, hidup kembali spt biasa. Back to normal. Tanpa pergeseran sikap, tanpa disiplin baru.

Ada yg cermat memantau undangan buka bersama demi hidangan terbaik (gratis lagi). Ada remaja menjadikan Ramadan alasan begadang hingga dini hari. Ada yg setia mengikuti ceramah dai favorit sbg hiburan religi. Ada pula yg berpuasa demi diet, berharap berat badan turun di akhir bulan.

Tentu saja ada yg tetap memilih jalan sunyi. Menambah tahajud di rumah saat sepertiga malam. Mengurangi ekspos diri. Jeda bermedsos. Menjaga jarak dr hiruk pikuk. Mencari makna tanpa sorotan & tanpa perlu validasi.

Mereka menjadikan Ramadan momentum tobat & penyucian jiwa. Bagi mereka, sebulan terasa singkat utk mengendalikan hawa nafsu yg lama dibiarkan lepas. Kerinduan thd Ramadan berikutnya lahir karena sadar, pekerjaan batin belum selesai.

Tak ada jalan instan meraih kemuliaan Ramadan. Niat kita menggumulinya menentukan makna yg diraih. Tingkat kesusahan menjalaninya menentukan dampaknya pada diri. Apa niat "kita" ber-Ramadan tahun ini.

(WH).