Seorang antropolog asal Swedia (André Möller) pernah meneliti Ramadan di Jawa. Ia melihat puasa bukan hanya kewajiban normatif, tapi pengalaman sosial yg hidup & kompleks. Ia menyimpulkan, bagi Muslim Jawa, puasa adalah joy sekaligus jihad. Ada kegembiraan, ada perjuangan.
Setiap Ramadan, ruang publik kita ikut berubah. Media menyediakan rubrik khusus. Toko buku memajang panduan puasa. Televisi menayangkan sinetron bertema religi. Radio, pusat belanja, hingga lini masa media sosial dipenuhi konten bernuansa Islam. Ramadan spt musim tafsir massal.
Di titik ini, lahir para komentator Ramadan. Juga pakar dadakan ttg Ramadan. Siapa pun merasa berhak bicara ttg Ramadan. Dimulai dg kalimat, “Ramadan adalah…” atau “Puasa adalah…”. Otoritas pengetahuan sering tak lagi ditimbang. Cukup membaca bbrp artikel, mengutip sana sini, atau merangkum hasil pencarian digital, seseorang sudah tampil sbg penafsir Ramadan.
Secara subjektif, tentu sah saja jika setiap orang berbagi pengalaman spiritualnya. Tapi menjadi penafsir publik menuntut kejujuran posisi. Jika berlatar medis, berbicaralah ttg kesehatan puasa. Bukan fikih puasa. Jika berlatar ekonomi, ulas dampak ekonominya. Jangan memaksakan wilayah yg bukan disiplin sendiri.
Tulisan rubrik "Ramadan Kita" ini memilih jalur "seakan-akan" antropologis saja. Melihat Ramadan dari pengamatan atau pengalaman. Dari praktik sehari hari, dari diri sendiri. Ya, semacam otokritik. Bercermin sebelum memberi komentar. Sebab, Ramadan bukan hanya teks utk dijelaskan, tapi laku utk dijalani. Makanya disebut "Ramadan Kita" (Atau Ramadan-ta dlm bahasa Indonesia Sulsel) [WH]
#RamadanKita #RefleksiRamadan #TaatRitualTunaSosial
(WH).
Alat AksesVisi