Apakah volume pelantang masjid yg menggelegarkan rekaman tilawah, salawat, azan, ceramah, & tarawih membuat lebih banyak orang datang salat berjemaah? Pertanyaan ini relevan, terutama di Ramadan, saat masjid dan musala yg berdekatan seolah berlomba melantangkan suara paling keras. Dan paling duluan. Atau paling lama.
Sudah lebih satu dekade lalu, pernah ada imbauan ormas Islam ttg pengaturan volume & durasi pelantang. Ada juga pejabat publik yg pernah usulkan aturan lebih tegas. Respons balik para "aktivis" pelantang masjid malah keras. Usulan dianggap ancaman thd syiar. Kritik dibalas kecurigaan. Bahkan teori konspirasi.
Faktanya, pengurus masjid sering menentukan sendiri jenis, durasi, & volume suara. Warga yg keberatan mudah dicap lemah iman. Padahal, di sekitar masjid mungkin ada orang yg sedang tahajud sendirian. Ada yg baru terlelap setelah tarawih. Juga ada lansia, ada bayi.
Membangunkan sahur lewat pelantang sering dianggap mulia. Tapi hari ini hampir semua orang punya alarm di ponsel. Bangun sahur itu soal niat & kebiasaan, bukan semata soal teriakan dari menara.
Alasan yg sering dikemukakan adalah syiar & kesemarakan agama. Di negeri mayoritas Muslim spt Indonesia, apakah simbol belum cukup tampak. Bahkan thd sesama Muslim, kebisingan terus menerus bisa berubah jadi bentuk intoleransi halus. Apalagi thd non-Muslim.
Ramadan mengajarkan menahan diri. Termasuk menahan volume. Setuju?
#RamadanKita #RefleksiRamadan #TaatRitualTunaSosial
(WH).
Alat AksesVisi