Mudik lebaran selalu punya makna emosional. Orang pulang ke kampung halaman, kembali ke asal, melepas rindu. Namun ada satu mudik yang sering luput direnungi, mudik ke kampung akhirat. Kedua mudik itu punya banyak kemiripan.
Sebelum lahir ke dunia, manusia telah terikat perjanjian primordial dengan Allah. Namun setelah hidup di dunia, manusia sering tenggelam dalam kesibukan duniawi hingga lupa asal-usul dan tujuan hidupnya. Al-Qur’an mengingatkan: “Janganlah kamu seperti orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri” (QS. 59:19).
Meski demikian, kerinduan kepada Tuhan tidak pernah hilang sepenuhnya. John Calvin menyebut adanya sensus divinitatis, rasa keilahian yang tertanam dalam diri manusia. Jalaluddin Rumi juga menulis: “Setiap orang yang terpental jauh dari Sumbernya ingin kembali ke saat ketika dia dulu bersatu dengan-Nya.”
Dalam Al-Qur’an, Allah disebut sebagai al-mashir, tujuan akhir manusia, dan husnul ma’ab, tempat kembali yang baik. Cepat atau lambat, semua manusia pasti akan “mudik” ke hadirat-Nya.
Ibn Arabi menyebut ada dua cara kembali kepada Allah, terpaksa dan sukarela. Terpaksa adalah kematian. Sukarela adalah latihan kembali sebelum kematian.
Ada tiga bentuk kembali sukarela. Pertama, haji, simulasi meninggalkan dunia. Kedua, Idulfitri, kembali ke fitrah setelah ditempa Ramadan. Ketiga, salat lima waktu, mi’raj harian yang mengantar manusia kembali kepada Allah di sela kesibukan dunia.
Agar mudik terakhir tidak terasa berat, manusia perlu membiasakan “latihan pulang”. Nabi saw bersabda, “Matilah sebelum engkau dimatikan.”
Seperti mudik lebaran, perjalanan pulang butuh bekal. Tanpa bekal, kepulangan terasa hampa. Begitu juga mudik ke akhirat. Al-Qur’an menegaskan: “Sebaik-baik bekal adalah takwa” (QS. 2:197).
Jadi, bukan harta, takhta, wanita atau data, hanya takwa yang akan menyertai perjalanan pulang itu.
Selamat mudik ke kampung halaman bagi yang masih punya kampung, dan kampungnya masih punya halaman.
[WH]
Alat AksesVisi