Dalam Islam, zakat adalah rukun ketiga setelah syahadat dan salat. Menariknya, Al-Qur’an berulang kali menyandingkan salat dan zakat, bahkan hingga puluhan kali. Ini menunjukkan keterkaitan erat antara ibadah kepada Allah dan tanggung jawab sosial kepada sesama. Antara ibadah dan muamalah.
Zakat bukan sekadar kedermawanan, tetapi juga penyucian diri. Secara bahasa, zakat berarti membersihkan. Al-Qur’an menegaskan: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS. 9:103). Jika salat membersihkan jiwa dari dosa perilaku, maka zakat membersihkan harta dari unsur yang tidak layak.
Tujuan zakat jelas, menolong fakir-miskin. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa dalam harta orang kaya ada hak orang lain (QS. 70:24–25). Artinya, zakat bukan pemberian sukarela, tetapi pemenuhan hak. Karena itu, mengabaikan kaum lemah dipandang sebagai tanda mendustakan agama (QS. 107:2–7).
Selain zakat, Islam juga mendorong sedekah. Namun memberi tidak boleh didorong oleh pamer atau gengsi. Dalam tradisi tasawuf, memberi setelah diminta dinilai lebih rendah nilainya dibanding memberi sebelum diminta. Abu Abd al-Rahman al-Sulami menyebut pemberian setelah permintaan sering hanya menjadi ganti rugi atas rasa malu si peminta.
Idealnya, kedermawanan menjadi budaya. Dana sosial terus mengalir, bukan menunggu krisis atau permintaan. Lembaga zakat bekerja profesional dan amanah sehingga mendapat kepercayaan publik.
Namun realitas sering berbeda. Banyak orang baru memberi setelah diminta. Ada pula lembaga filantropi yang kehilangan arah, bahkan tergelincir ke kepentingan bisnis. Ini melemahkan trust masyarakat.
Padahal kedermawanan dalam Islam tidak terbatas pada materi. Nabi saw bersabda bahwa senyum di hadapan saudaramu adalah sedekah. Bahkan menggembirakan orang lain termasuk amal yang dicintai Allah.
Dalam tasawuf dikenal istilah kedermawanan spiritual. Yaitu kelapangan hati untuk berbagi bukan hanya harta, tetapi juga waktu, perhatian, cinta, pengetahuan, dan kebahagiaan. Di situlah zakat menemukan maknanya yang terdalam. Yaitu, bukan sekadar kewajiban, tetapi jalan penyucian jiwa dan kemanusiaan.
[WH]
Alat AksesVisi