Frithjof Schuon (1907–1998), metafisikawan abad ke-20 yang juga dikenal dengan nama Muhammad Isa Nuruddin, pernah menulis:“Oh, alangkah saling membencinya kita hanya karena memperebutkan cinta Tuhan.”Ungkapan ini menyentuh satu sisi psikologi beragama manusia. Dalam urusan agama, manusia sering menjadi posesif dan pencemburu.
Sebagian orang seolah mengira cinta Tuhan itu terbatas. Jika orang lain juga mengaku dicintai oleh Tuhan yg sama, seakan ada bagian yang terambil dari mereka. Dari sini lahir sikap eksklusif. Surga dibayangkan sebagai ruang sempit yang hanya cukup untuk kelompok sendiri.
Dalam studi agama-agama, sikap ini dikenal sebagai truth claim, pendakuan kebenaran. Sampai batas tertentu hal ini wajar. Setiap orang tentu yakin agamanya benar. Tanpa keyakinan seperti itu, agama kehilangan makna bagi pemeluknya.
Masalah muncul ketika keyakinan itu berubah jadi ambisi meniadakan yang lain. Pluralitas agama ditolak, lalu energi intelektual dihabiskan untuk mencari kesalahan agama lain. Dalam bentuk ekstrem, muncul keinginan memaksa orang lain memeluk keyakinan yang sama. Di sinilah konflik sering bermula.
Al-Qur’an memberi perspektif berbeda. Allah berfirman:“Dan kalau Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan mereka satu umat (saja)” (QS. Ash-Shura 42:8).Artinya, keberagaman manusia adalah bagian dari kehendak Tuhan sendiri.
Karena itu energi beragama seharusnya diarahkan bukan untuk meniadakan yang lain, tetapi untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Agama hadir untuk membawa rahmat bagi kehidupan.
Tentang siapa yang akhirnya selamat, lebih bijak jika kita tetap rendah hati. Sambil berharap keselamatan melalui agama yang kita anut kita tak usah mengambil peran Tuhan dalam menilai nasib akhir orang lain.
Saya pernah baca satu kutipan yang didaku dari Ali Shariati seperti ini: “Lebih baik kau habiskan waktumu untuk berusaha memasukkan dirimu ke surga, daripada berusaha membuktikan bahwa orang lain akan masuk neraka".
Kita tutup esai ini dengan kata-kata Fritjhof Schuon lagi:"Agama apa pun yang dianut oleh seseorang, asal dia konsisten, niscaya akan membawa dia kepada keselamatan".Jadi, kuncinya, istiqamah dalam kebenaran.
[WH]
Alat AksesVisi