Setiap Ramadan kita berbicara tentang penyucian diri. Kita menahan lapar, dahaga dan hawa nafsu. Namun jarang muncul pertanyaan sederhana ini. Apakah puasa juga menyucikan cara kita memperlakukan bumi?
Dalam beberapa dekade terakhir planet bumi menghadapi krisis serius. Perubahan iklim, polusi udara dan air, kepunahan spesies, serta kerusakan hutan terjadi hampir di semua tempat. Indonesia pun mengalami krisis lingkungan yang lebih parah. Hutan menyusut, sungai, laut dan danau tercemar, banjir dan longsor makin sering terjadi.
Al-Qur’an telah lama memberi diagnosis. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia” (30:41). Kerusakan ekologis bukan sekadar soal teknologi atau pembangunan. Seperti sudah dinyatakan pemikir Muslim Seyyed Hossein Nasr sejak 1960-an, “krisis ekologis disebabkan oleh krisis spiritual manusia modern”.
Nasr juga mengingatkan, “Kesejahteraan ekologis dan kesejahteraan spiritual adalah satu. Keduanya tidak terpisahkan. Pemulihan yang satu berarti pemulihan yang lain.” Artinya, kerusakan alam sesungguhnya mencerminkan kerusakan batin manusia.
Islam memandang manusia sebagai khalifah di bumi (Q.s. 2:30). Manusia bukan pemilik mutlak alam, melainkan penjaga yang memikul amanah. Alam diciptakan Allah dengan keseimbangan atau mizan (Q.s. 55:7–9). Merusaknya berarti melanggar tatanan yang telah ditetapkan-Nya. Alam semesta juga adalah ayat-ayat Allah (Q.s. 41:53) ), maka merusaknya sama dengan merobek-robek ayat-ayat-Nya.
Karena itu merawat alam adalah bagian dari ibadah. Nabi saw menyebut menanam pohon sebagai sedekah. Apa pun yang dimakan manusia atau makhluk lain dari tanaman itu menjadi pahala bagi penanamnya.
Puasa seharusnya juga melatih manusia menahan keserakahan. Bukan hanya terhadap makanan, tetapi juga terhadap eksploitasi bumi tanpa batas. Jika setelah Ramadan manusia tetap boros, merusak alam dan menumpuk sampah di mana-mana, maka puasa belum menyentuh akar persoalan.
Pertobatan spiritual sejati harus juga disertai pertobatan ekologis. Tanpa itu, bumi rusak akan terus menjadi cermin dari jiwa manusia yang rusak.
[WH]
Alat AksesVisi