Gambar Ramadan Kita #24: Ramadan tanpa Transformasi Diri

Saya tidak tahu apakah kawan-kawan pembaca juga pernah mengajukan pertanyaan ini kepada diri sendiri setiap kali Ramadan datang.
Setelah menjalani puluhan Ramadan, apa pengaruhnya dalam mentransformasi diri kita?
Jika Ramadan adalah madrasah ruhaniah, kini kita sudah berada di kelas berapa?
Atau jangan-jangan kita tidak pernah naik kelas?
Ramadan datang silih berganti. Tapi apakah diri kita ikut berubah?

Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa, agar manusia menjadi bertakwa (Q.s. 2:183). Menariknya, Al-Qur’an juga menjelaskan ciri orang bertakwa terutama dalam dimensi akhlak. Dalam Q.s 3:133–134 disebutkan, orang bertakwa ialah mereka yang gemar bersedekah, baik saat lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan berbuat kebajikan kepada sesama. Terlihat bahwa ciri takwa dalam ayat ini terutama terkait dengan akhlak dan hubungan sosial, bukan sekadar ibadah ritual. Menariknya, tak satu pun ciri itu menyebut banyaknya ritual.

Akan tetapi realitas sosial sering memperlihatkan gambaran yang paradoks. Korupsi masih merajalela. Kekerasan sosial terjadi di berbagai tempat. Keserakahan atas sumber daya alam makin menggila. Ketidakjujuran dan penyalahgunaan kekuasaan terus muncul di ruang publik.

Di sinilah paradoks itu terlihat. Praktik ritual keagamaan semakin semarak, tapi kualitas moral kehidupan bersama sering tidak ikut membaik. Kesalehan privat meningkat, tapi etika publik justru merosot. Padahal tujuan utama misi Nabi saw adalah “li utammima makarim al-akhlaq”, menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia.

Sebab itu Ramadan sejatinya jadi momen muhasabah. Jika setelah Ramadan seseorang menjadi lebih murah hati, lebih jujur, lebih sabar, lebih menahan diri dan lebih peduli kepada sesama. Di titik itulah puasa mencapai maknanya.

Tanpa perubahan moral seperti itu, Ramadan mudah berubah menjadi rutinitas ritual tahunan saja. Bahkan semakin tahun nampaknya semakin dipenuhi dengan pasar malam Ramadan di hampir setiap alun-alun kota dan desa. Ramadan mestinya melahirkan manusia baru, bukan sekadar jadwal ibadah baru. Atau jadwal pasar malam baru.

[WH]