Gambar Ramadan Kita #22: Taat Ritual, Tuna Sosial dan Ekologikal

Sejumlah riset menunjukkan bahwa sikap intoleransi di kalangan sebagian Muslim Indonesia cenderung meningkat terhadap penganut mazhab, agama, atau pandangan berbeda. Fakta ini terasa paradoks. Sebab Al-Qur’an, hadis Nabi, kitab ulama, serta ceramah para mubalig, khususnya di bulan Ramadan, berulang kali menekankan nilai toleransi.

Sebagian kalangan melihat fenomena ini berbeda. Mereka menunjuk pada maraknya pembangunan masjid yang besar dan megah. Jemaah semakin ramai, terutama saat Ramadan. Salat tarawih semarak di masjid, musala, bahkan di rumah pejabat atau pengusaha. Dakwah juga berlangsung intensif melalui berbagai media.

Jumlah calon jemaah haji Indonesia juga terus meningkat. Daftar tunggu semakin panjang dari tahun ke tahun. Di sejumlah daerah bahkan muncul aspirasi untuk menegakkan syariat Islam melalui berbagai perda bernuansa syariah.

Namun di sisi lain muncul fakta berbeda. Kasus korupsi, kriminalitas, narkoba, pelecehan seksual, serta berbagai bentuk kekerasan sosial juga meningkat. Konflik antaragama, persekusi kelompok minoritas, pelanggaran HAM, hingga aksi teror ikut menghiasi ruang publik.

Mengapa dua gambaran ini muncul bersamaan. Sebab agama sering dinilai dari sudut pandang berbeda. Ada yang melihatnya terutama dari praktik ritual. Ada pula yang menilainya dari dampak moral, sosial dan ekologisnya.

Akibatnya muncul dua wajah keberagamaan. Di satu sisi terlihat kesalehan ritual yang semarak. Di sisi lain tampak gejala melemahnya etika sosial. Fenomena ini pernah dikritik oleh Nurcholish Madjid. Menurutnya, umat Islam sering terjebak pada kesalehan simbolik.

Padahal esensi ibadah bukan sekadar simbol ritual. Setiap ibadah bertujuan mendekatkan manusia kepada Allah. Buah kedekatan itu adalah akhlak mulia. Logikanya sederhana. Jika ibadah dilakukan dengan benar, akhlak seseorang semestinya semakin baik terhadap sesama dan semesta.

Karena itu Ramadan tidak cukup diisi dengan semarak ritual. Ia juga menuntut lahirnya kepekaan sosial, sikap toleran, dan kasih sayang kepada sesama dan semesta. Sebab misi Nabi Muhammad saw adalah menyempurnakan akhlak manusia serta membawa rahmat bagi seluruh alam.

[WH]