Di Indonesia, Ramadan bukan hanya bulan puasa. Ia juga identik dg bulan ceramah. Hampir setiap malam, sebelum tarawih atau setelah subuh, mimbar diisi ceramah. Permintaan mubalig naik tajam. Bahkan sering lebih banyak undangan drpd stok penceramah yg tersedia.
Masalahnya bukan pada banyaknya ceramah. Masalahnya pada kualitas & orientasi. Dalam situasi krisis mubalig, siapa saja bisa diundang. Cukup modal percaya diri, pandai bicara, hafal beberapa ayat & hadis. Soal kedalaman ilmu & keluasan wawasan sering jadi urusan belakangan.
Akibatnya, ceramah Ramadan mengalami inflasi. Forum bertambah, frekuensi meningkat, tapi makna menipis. Ia berubah jadi rutinitas seremonial atau hiburan retorik. Jemaah datang, mendengar, main hp, tertawa, kadang menangis. Lalu pulang tanpa perubahan sikap. Tanpa transformasi diri.
Padahal, ceramah sejatinya proses saling menasihati, mengoreksi, membimbing, & memberi teladan. Jika ia tak lagi berkorelasi dg problem nyata umat, wajar jika korupsi, intoleransi, & krisis moral tetap berjalan paralel dg gema mimbar Ramadan.
Kita butuh nasehat yg lahir dr amal, kesucian, & transformasi diri, bukan lagi ceramah. Terlebih jika materinya hanya hasil kompilasi instan, tanpa pergulatan batin penuturnya [WH].
#RamadanKita #RefleksiRamadan #TaatRitualTunaSosial
(*)
Alat AksesVisi