Setiap Ramadan kita membaca Al-Qur’an lebih sering. Mushaf keluar dari rak, ayat bergema di masjid, tilawah terdengar di rumah-rumah. Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah kita hanya membaca hurufnya, atau juga membaca pesan yang dibawanya?
Wahyu pertama dalam Islam dimulai dengan satu kata: iqra’, bacalah. Menariknya, perintah ini tidak menyebut objek tertentu. Tidak dikatakan bacalah kitab ini atau bacalah teks itu. Seolah Al-Qur’an ingin menunjukkan bahwa membaca adalah sikap hidup. Membaca kitab suci, membaca alam, juga membaca diri sendiri.
Para ulama sering menyebut adanya dua jenis ayat Allah. Pertama, ayat qawliyah, firman Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an. Kedua, ayat kawniyah, tanda-tanda Allah yang terbentang di alam semesta. Langit, laut, gunung, hutan, sungai, semuanya adalah ayat yang menunggu untuk dibaca.
Karena itu membaca Al-Qur’an tidak berhenti di bibir. Ia harus bergerak ke pikiran, lalu memengaruhi cara kita melihat dunia. Ketika Al-Qur’an berbicara tentang manusia sebagai khalifah di bumi, itu bukan sekadar gelar kehormatan. Itu adalah amanah.
Amanah untuk menjaga keseimbangan alam yang oleh Al-Qur’an disebut mizan. Amanah untuk tidak merusak bumi yang penuh dengan tanda-tanda kebesaran Allah.
Jika seseorang membaca Al-Qur’an tetapi tetap membuang sampah ke sungai, merusak hutan, atau mencemari laut, maka ia sedang membaca satu kitab sambil merobek kitab yang lain. Padahal keduanya berasal dari sumber yang sama.
Ramadan memberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan itu. Kita membaca Al-Qur’an dengan mata, lalu membaca alam dengan hati. Dari sana lahir kesadaran bahwa iman bukan hanya soal ibadah di sajadah, tetapi juga soal bagaimana manusia hadir di bumi dengan rasa tanggung jawab.
Ukuran bacaan Al-Qur’an bukan hanya berapa juz yg selesai dibaca. Ukurannya adalah sejauh mana ayat-ayat itu melekat di pikiran, lalu memengaruhi cara kita memperlakukan bumi yang Allah titipkan kepada manusia.
[WH]
Alat AksesVisi