Di satu group WA yang saya ikuti, pernah muncul debat panjang tentang makna ikhlas. Perdebatan itu dipantik oleh satu sentilan. Bahwa perbuatan baik, jika terus dipublikasikan di medsos, bisa kehilangan pahala. Ia berubah jadi riya’, berharap pujian manusia, bukan rida Allah. Sentilan itu rupanya mengarah kepada beberapa postingan anggota grup yang rajin menampilkan setiap kegiatan sosialnya.
Lalu muncul pertanyaan lama. Apa sebenarnya ikhlas itu?
Dalam teks agama, ikhlas disebut sebagai syarat diterimanya amal. Ia inti iman sekaligus tujuan perjalanan spiritual seorang Muslim. Ulama tasawuf sejak lama membahasnya. Abul Qasim al-Qusyairi pernah menulis, ikhlas adalah membersihkan amal dari komentar manusia. Secara bahasa, ikhlas berarti bersih. Secara istilah, ia berarti memurnikan niat dari segala motif yang merusak nilai amal.
Dalam tradisi tasawuf disebutkan, orang yang benar-benar ikhlas sering lupa kalau ia sedang ikhlas. Jika kontinu dilakuan, kebaikan akan berubah jadi kebiasaan. Ia jadi spontan, tanpa kalkulasi lagi. Jangankan sharing, ia bahkan tidak lagi ingat amal baiknya.
Bahkan ucapan “saya ikhlas” pun masih menyimpan sisa harapan untuk dipuji. Paling tidak, dipuji sebagai orang ikhlas. Pada tingkat lebih tinggi, seseorang tidak lagi menunggu respons, pujian dan terima kasih atas amal baiknya. Dalam istilah sekarang, tidak butuh validasi. Ia memberi lalu melupakannya. Dalam bahasa tasawuf, kesadaran diri seperti ini disebut fanā’, luluhnya ego dalam amal.
Karena itu Nabi bersabda, “Sesungguhnya amal bergantung pada niatnya.” Amal yang sederhana tapi ikhlas tetap bernilai. Sebaliknya, amal yang tampak sempurna bisa kosong jika niatnya keliru.
Bagi orang ikhlas, amal terbuka atau tersembunyi tidak lagi jadi soal. Ia terus berbuat baik, dipuji atau dicela. Dalam ungkapan Bugis, ia "mabbutantaru mapallaong ri decengngE". Buta dan tuli dalam melakukan kebaikan.
[WH]
Alat AksesVisi