Gambar Ramadan Kita #15: Ramadan & Jeda Pesta Makan Besar

Ramadan pada dasarnya menawarkan jeda duniawi. Selama 11 bulan, hidup kita berputar di sekitar kerja, target, rapat, perjalanan dinas, fasilitas nyaman dan lingkar sosial yang itu-itu saja. Ritme ini pelan-pelan menumpulkan empati pada orang lain.

Bagi sebagian kecil orang, hari-harinya berada di ruang kantor mewah, hotel berbintang, lounge VIP bandara, restoran mahal, dan kendaraan berpatwal. Di akhir pekan, pergaulan tetap terbatas pada kolega seprofesi atau kelas sosial yang sama. Jika pola ini terus berulang, jarak sosial makin tebal. Derita orang lain hanya jadi berita, bukan pengalaman batin.

Maka, Ramadan hadir sebagai kesempatan rehat dari pola profesional itu. Puasa melatih lapar, tapi juga menguji kepekaan. Ia membuka ruang untuk berjumpa dengan mereka yang jarang kita sapa di bulan-bulan lainnya. Namun yang sering terjadi, Ramadan malah dipenuhi pula agenda bukber dengan teman-teman sekantor, tarawih keliling di rumah jabatan, atau paket iftar di hotel mewah.

Banyak instansi atau asosiasi menggelar buka bersama. Anggarannya tersedia. Anak panti kadang diundang, tapi duduk terpisah. Hadir sebagai pelengkap simbolik. Setelah Idul fitri, halal bihalal kembali digelar dalam lingkar profesi yang sama. Identitas korps makin kuat, sementara jarak dengan kalangan lain tetap menganga.

Suatu waktu di 2018, saya bertanya kepada seorang profesor ilmu politik di satu universitas di Amerika Serikat tentang identitas. Saya bilang, “Kalau saya tanya, ‘Who are you’, apa jawabanmu?” Dia jawab, “I am a political scientist”. Jadi bukan saya orang Amerika, atau saya Katolik, dan sebagainya. Rupanya, identitas profesional lebih kuat dan penting. Fenomena serupa kini kian terasa di sini. Profesi dan teman profesi lebih penting dari segalanya.

Karena itu, Ramadan seharusnya jadi jeda dari pesta makan besar yang rutin kita nikmati di luar bulan suci bersama kolega seprofesi. Ia bisa jd bulan reses sosial & bulan berbagi lintas kelas, bukan ajang demonstrasi status. Jika setiap malam tetap diisi dg meja prasmanan hotel, lalu kapan ruang sunyi utk merasakan lapar yg sama dg mereka yg tak pernah punya pilihan

[WH].