Gambar Ramadan Kita #14: Dai Kelana tanpa Panggung Besar

Namanya Zainal. Usianya 14 tahun. Santri kelas tiga MTs Putra Pesantren As’adiyah Sengkang. Pada 2012, saat saya riset etnografi di Wajo, ia sudah berkhotbah Jumat dalam bahasa Bugis di masjid desa. Selama Ramadan, ia mengisi ceramah tarawih dan subuh hampir tiap hari.

Zainal bukan dai profesional. Ia bukan figur media. Ia bagian dari ratusan anggota "pa’da’wa" (tim mubalig Ramadan) yang tiap tahun dikirim ke berbagai pelosok atas undangan warga, terutama komunitas perantau Bugis di berbagai wilayah nusantara.

Anggotanya bukan hanya guru, tetapi juga santri remaja, siswa MA, & mahasiswa. Mereka tinggal di rumah warga, beradaptasi dengan lingkungan baru, lalu mengisi mimbar desa yang sering tak tersentuh dai kota. Mereka menyampaikan ceramah, khotbah Jumat, mengajar mengaji, hingga menutup tugas dengan khotbah Idul Fitri.

Peran mubalig muda seperti ini jarang direkam dalam kajian tentang dakwah. Diskursus akademik lebih sibuk membahas dai selebritas, dakwah digital, atau gerakan ideologis besar. Padahal di banyak wilayah terpencil, merekalah sumber utama ceramah terstruktur selama Ramadan.

Mereka datang tanpa popularitas, tetapi dengan bekal ilmu dari pesantren dan latihan disiplin. Bahasa Bugis yang mereka gunakan memperkuat kedekatan kultural dengan jemaah. Sejak usia belia mereka ditempa menyusun materi, membaca audiens, dan menjaga adab di ruang publik.

Tanpa mubalig kelana ini, banyak masjid desa akan kekurangan pengisi mimbar. Tradisi ini adalah infrastruktur dakwah akar rumput yang bekerja tenang, konsisten, dan jarang disorot. 

Boleh jadi, dakwah mereka jauh lebih bermakna, berdampak dan berpahala daripada dakwah dai-dai selebriti di zona aman dan nyaman, yang hanya perlu memastikan khalayak mereka dapat terus terbahak.

[WH]