Gambar Ramadan Kita #13: Takmir Masjid di Persimpangan Ideologi

Di Indonesia, takmir masjid bukan lagi sekadar pengelola ibadah rutin. Ia menjadi arena kontestasi ideologi. Lewat struktur kepengurusan, arah dakwah & corak keberagamaan jemaah pelan-pelan dibentuk.

Pada masa lalu, afiliasi masjid relatif mudah dikenali. Jika bukan bercorak NU atau Aswaja, biasanya berciri ideologi keagamaan Muhammadiyah. Praktik ritual pun berbeda namun tetap moderat. Ada yg qunut & dua azan Jumat, ada yg tanpa qunut & satu azan. Perbedaan itu hadir tanpa kehendak utk saling menyingkirkan.

Kini spektrumnya lebih beragam. Organisasi & kelompok baru tumbuh & melihat masjid sbg pintu masuk paling efektif. Di sejumlah tempat, perubahan terjadi perlahan. Dimulai dg pengisian imam rawatib, pengajian rutin, lalu masuk ke struktur takmir melalui mekanisme musyawarah. Pd akhirnya, pengurus lama tergeser, bahkan donatur utama pun tersisih. Bahkan, ada masjid binaan provinsi yg ganti total pengurus segera setelah gubernur yg berideologi agama tertentu terpilih.

Istilah baru bermunculan. Ada label masjid sunnah & non-sunnah, kriteria yg dibuat sepihak. Di masjid yg satu ornamen, tradisi salawat sebelum azan, doa bersama, hingga jabat tangan selepas salat menjadi penanda. Di masjid lainnya, polos ornamen, tanpa salawat tarhim, tanpa doa berjamaah, tanpa jabat tangan. Ruang ibadah berubah menjadi ruang kategorisasi paham keagamaan.

Di lingkungan masjid kampus, proses ini sering lebih sistematis. Awalnya musala dikelola mahasiswa lintas latar belakang. Kajian terbuka, tema beragam, pembicara datang dr spektrum luas. Lalu melalui mekanisme demokratis, kelompok yg lebih solid & terorganisir menguasai kepengurusan. Setelah itu, tema menyempit. Tema khilafah, bidah, jihad, hijrah, anti-Syiah mendominasi. Perspektif lain hilang dr mimbar.

Yang menarik, proses ini kerap berlangsung tanpa protes. Mahasiswa {polos paham agama) yg datang dr berbagai disiplin ilmu mengikuti arus saja. Paparan agama rutin membentuk preferensi baru. Bahkan sebagian pimpinan kampus (polos) kemudian merepresentasikan kecenderungan ideologi keagamaan (sempit) serupa.

Faktanya sederhana. Takmir menentukan arah. Mereka memilih khatib, mubalig Ramadan, tema pengajian, hingga siapa yg boleh berbicara. Jika selera keagamaannya sempit, maka ruang masjid ikut menyempit. Jika orientasinya Islam-politis, mimbar menjadi corong Islamisme.

Di sekolah menengah, pola serupa terlihat melalui Rohis. Kelompok yg paling rajin hadir & mengisi kegiatan memiliki peluang besar mengarahkan corak keberagamaan teman-temannya. Sementara kelompok yg mengaku moderat sering absen dr ruang ibadah, lebih aktif di ruang diskusi lain.

Masjid pada dasarnya milik umat & harus terbuka. Tetapi keterbukaan tanpa partisipasi akan mudah diambil alih oleh mereka yg paling terorganisir. Kini bukan lagi bicara ttg masalah keagamaan apa yg paling relevan tapi siapa yg aktif & konsisten hadir di masjid.

Bagaimana dg masjid di sekitar “kita”?

(WH)