Gambar Ramadan Kita #12: Media Televisi dan Komodifikasi Agama

Televisi nampaknya belum tergeser. Di saat internet tumbuh pesat, layar TV tetap menyala di rumah-rumah kita. Ia hadir tanpa perlu kuota, tanpa perlu literasi digital. Karena itu, Ramadan selalu menjadi musim emas industri penyiaran. Agama masuk ruang keluarga bersamaan dengan iklan, rating, dan target pasar.

Sejak sahur hingga tengah malam, hampir semua kanal menayangkan program religi. Ceramah, sinetron, kuis, komedi, konser, dan sebagainya. Semuanya dibungkus hangat, ringan, mudah dicerna. Dakwah dipadatkan agar cocok dengan durasi. Dai dituntut komunikatif, ekspresif, menarik kamera. Perlahan, otoritas keilmuan bergeser menjadi popularitas. Yang sering tampil dianggap paling tahu.

Jika kita jujur, format televisi mendorong penyederhanaan. Isu fikih yang berlapis dijawab dalam hitungan menit. Perbedaan pendapat jarang diurai. Nuansa keragaman diganti kepastian. Padahal agama tidak selalu hitam putih. Ketika kompleksitas dihilangkan demi rating, yang hilang bukan sekadar detail tapi juga kedalaman.

Media juga menciptakan figur. Dari pengisi segmen kecil, naik menjadi host, lalu dikenal luas. Undangan berdatangan. Publik memberi legitimasi karena wajahnya akrab di layar. Jika tersandung masalah, layar yang sama pula yang membesarkan kejatuhannya. Proses ini cepat, sering tanpa fondasi keilmuan yang matang.

Sementara itu, iklan mengalir deras di sela-sela program. Pesan spiritual berdampingan dengan promosi produk. Ramadan berubah menjadi momentum konsumsi. Kita disuguhi tausiah tentang kesederhanaan, lalu disambut tayangan yang mendorong belanja. Dan pameran gaya hidup mewah.

Pertanyaannya sederhana. Apakah kita menonton untuk memperdalam iman, atau sekadar mengisi waktu? Jika agama terus diposisikan sebagai konten, maka ia tunduk pada logika pasar. Dan ketika pasar menjadi penentu, pesan yang tajam dan menuntut refleksi akan tersisih oleh yang ringan dan menghibur.

Di titik ini, tanggung jawab tidak hanya ada pada stasiun televisi. Ia juga ada pada kita sebagai penonton. Apa yang kita pilih untuk ditonton, itulah yang akan terus diproduksi. Karena media bekerja berdasarkan algoritma mentalitas beragama kita.

"Salah satu cara mengukur wawasan pengetahuan agama seseorang adalah dengan melihat siapa dai-dai favoritnya”.

[WH]