Di bulan Ramadan, pola beragama kita sering menyerupai teori pilihan rasional dalam ilmu ekonomi. Orang ingin untung sebesar mungkin dengan modal sekecil mungkin. Dalam ibadah, logika itu berubah menjadi perburuan pahala berlipat dengan usaha yang seringan mungkin.
Maka diburulah momentum dan lokasi yang dipandang paling afdal dan berbonus. Tarawih tercepat, khatam terbanyak, sedekah di sepuluh malam terakhir, salat di titik yang diyakini paling besar ganjarannya. Ibadah dikalkulasi seperti deposito ukhrawi. Yang dihitung angka pelipat-gandaan, bukan kedalaman makna.
Membaca Al Qur’an tiga kali khatam terdengar mengagumkan. Namun apakah maknanya dipahami. Apakah ayatnya mengubah cara berpikir dan bertindak. Apakah fungsi hudan dan furqan-nya terasa. Jika tidak, Al Qur’an berhenti sebagai bacaan, belum menjadi petunjuk.
Padahal Nabi SAW menekankan konsistensi, bukan ledakan kuantitas. Ibadah kecil yang terus menerus lebih bernilai dari yang besar tetapi sesekali. Artinya, tidak ada jalan pintas. Pahala tidak lahir dari kecerdikan mencari celah waktu dan tempat, tetapi darr kesungguhan dan ketulusan.
Masalahnya sering bukan pada kurangnya ritual, tetapi kurangnya literasi. Kita gemar mendengar ceramah, tetapi malas membaca. Kita tekun menonton konten agama, tetapi jarang membuka kitab atau buku tafsir. Wahyu pertama adalah iqra. Perintah membaca, bukan sekadar mendengar.
Tanpa budaya literasi, agama mudah direduksi menjadi hitung hitungan pahala. Dengan literasi, agama bertumbuh menjadi kesadaran kritis dan transformatif. Ibadah tidak lagi dipandang sebagai transaksi, tetapi proses pembentukan diri.
Ramadan seharusnya menggeser orientasi ini. Dari kalkulasi menuju kedalaman. Dari kuantitas menuju kualitas. Dari sekadar rajin beribadah menuju sungguh-sungguh belajar memahami apa yang kita ibadahi. Di situlah ibadah berhenti sebagai investasi angka dan berubah menjadi jalan pendewasaan jiwa.
[WH]
Alat AksesVisi