Albert Einstein pernah menyebut agama sebagai takhayul kekanak-kanakan. Sejumlah filsuf beranggapan, agama dibutuhkan manusia yang belum matang akalnya.Anak kecil patuh karena ancaman dan imbalan.Ia berhenti bermain api karena dimarahi.Ia taat karena takut dihukum.
Pertanyaannya, apakah pola itu masih kita bawa sampai dewasa?
Lihat cara kita berlalu lintas.Helm dipakai karena ada polisi.Sabuk pengaman dikencangkan karena takut ditilang.Jika merasa tidak diawasi, aturan dilanggar. Padahal aturan dibuat untuk keselamatan diri kita sendiri.
Bukankah pola yang sama sering muncul dalam beragama?
Di bulan Ramadan, masjid penuh.Ceramah tentang pahala dan dosa menggema.Ibadah meningkat tajam.Itu baik, tetapi jika dorongan utamanya hanya pahala berlipat dan takut neraka, kita belum beranjak dr tahap awal.Kita taat karena imbalan.Kita menahan diri karena ancaman.
Keberagamaan seperti ini sejatinya rapuh.Ia kuat saat suasana religius ramai.Ia melemah saat tak ada sorotan.Ia hidup di ruang ibadah, tetapi sering absen di ruang kerja, pasar dan jalan raya.
Kedewasaan dalam beragama dimulai saat kita sadar bahwa setiap ajaran membawa manfaat nyata.Puasa bukan hanya krn perintah, tetapi karena ia melatih disiplin dan kejujuran, selain manfaat untuk kesehatan.Larangan bukan sekadar ujian kepatuhan, tetapi pagar keselamatan.
Orang yang dewasa tidak jujur karena takut dosa saja.Ia jujur karena tahu kejujuran itu menjaga martabat hidupnya.Ia disiplin bukan karena diawasi, tetapi karena sadar hidupnya dipertaruhkan.
Ramadan adalah ruang latihan menuju tahap ini.Dari takut menjadi sadar.Dari imbalan menjadi tanggung jawab.
Jika lulus dari Ramadan kita lebih jujur, lebih tertib, lebih bertanggung jawab, itulah tanda agama telah dewasa dalam diri kita.Itulah keberagamaan yg bermakna. [WH]
Alat AksesVisi