Gambar Ramadan Kita #1: Selamat (Ke)datang(an) Ramadan

Setiap tahun, Ramadan disambut spt tamu agung yg datang membawa hadiah. Pahala dilipatgandakan, lailatulqadar dijanjikan, masjid penuh, salat sunnah bertambah, tilawah meningkat, sedekah meluas. Sejak malam pertama, intensitas ritual naik tajam. Dimensi simbolik agama ikut menguat. Busana yg dipersepsi Islami jadi tren. Ruang publik tampak lebih religius.

Di saat yg sama, pola konsumsi berubah drastis. Pasar penganan berbuka tumbuh di berbagai sudut kota. Acara buka bersama menjamur, kadang lebih mirip pesta makan drpd latihan menahan diri. Ramadan yg identik dg puasa malah beriringan dg lonjakan belanja & ragam kuliner. Seolah yg ditahan hanya jam makan, bukan hasrat konsumsi.

Karena itu, ada beda antara mengucapkan Selamat Kedatangan Ramadan & Selamat Datang Ramadan. Ucapan pertama bisa lahir dari kegembiraan musiman. Ucapan kedua menuntut kesiapan batin. Ia lahir dari harapan sekaligus kecemasan. Harapan utk bertobat & mendekat. Kecemasan jangan sampai Ramadan berlalu tanpa perubahan diri. Jangan sampai yg tersisa hanya lapar & dahaga, bukan kerendahan hati, empati, & kendali diri [WH].

#RamadanKita
#RefleksiRamadan
#TaatRitualTunaSosial

(*)