Gambar Ramadan Kita: Pasar Malam Ramadan

Menjelang Ramadan, di banyak kota, lapangan dan taman mulai berubah wajah. Tenda-tenda didirikan, lampu-lampu digantung dan lapak-lapak bermunculan. Yang dijual bukan hanya makanan berbuka, tetapi juga pakaian, sandal, mainan anak, aksesoris, hingga berbagai barang rumah tangga. Suasananya menyerupai pasar malam.

Keramaian biasanya memuncak bukan saat magrib, tetapi ketika salat tarawih berlangsung di masjid. Di saat jamaah berkumpul untuk beribadah, lapangan-lapangan kota justru dipenuhi orang yang berjalan di antara deretan lapak. Anak-anak bermain. Orang dewasa melihat-lihat barang dagangan. Sebagian datang untuk membeli sesuatu, sebagian lain sekadar menikmati suasana.

Fenomena seperti ini kini rutin hadir di setiap Ramadan. Lapangan atau taman kota berubah jadi ruang hiburan sekaligus pusat belanja musiman. Ramadan menjadi waktu ketika aktivitas ekonomi di ruang-ruang itu hidup hingga larut malam.

Di satu sisi, pemandangan tersebut memperlihatkan kehidupan kota yang semarak. Ramadan menghadirkan keramaian sosial yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat.

Namun di sisi lain, ada ironi yang mencengangkan. Ramadan sejak awal dimaksudkan sebagai latihan menahan diri. Puasa mengajarkan pengendalian hasrat, termasuk hasrat konsumsi. Ia juga mengajak manusia memperbanyak waktu sunyi, merenung, dan mendekat kepada Allah.

Malam-malam Ramadan bahkan secara tradisional dikenal sebagai waktu berkumpul bersama keluarga, membaca Al-Qur’an, meditasi, atau melaksanakan ibadah malam di masjid.

Maka, ketika lapangan kota lebih ramai daripada masjid saat tarawih, muncul pertanyaan yang patut direnungkan. Apakah Ramadan masih dijalani sebagai bulan pengendalian diri, atau perlahan berubah menjadi musim keramaian dan konsumsi.

Pasar malam Ramadan tentu tidak sepenuhnya salah. Ia memberi ruang ekonomi bagi pedagang kecil dan menghadirkan kegembiraan bagi warga. Namun pemandangan itu juga mengingatkan kita pada jarak yang semakin menganga antara spirit atau makna puasa dan praktik keseharian kita.

Ramadan yang seharusnya melatih manusia untuk mengurangi dorongan memiliki kini malah jadi alasan baru untuk memperbanyak keinginan.

[WH]