Baru saja saya selesai memberikan tausiyah di Balaikota Makassar.Hampir semua hadir, termasuk Pak Wali Kota.
Saya sempat tertegun melihat pemandangan itu. Meski telah memasuki Ramadhan ketigabelas, semangat para pegawai masih luar biasa membludak mengikuti Shalat Duhur berjamaah dan menyimak tausiyah.
Di tengah antusiasme memenuhi ruangan, saya memilih membicarakan sesuatu kerap diucapkan, tetapi paling sulit dijaga: ikhlas.
Sambil berdiri di mimbar, saya mengamati wajah-wajah jemaah tetap tegak menyimak di tengah rasa lapar dan haus mulai memuncak.
Saya sampaikan fakta unik: perhatikan Surat Al-Ikhlas. Surat ini hampir setiap Shalat Witir dibaca imam, dan jemaah pun hafal di luar kepala. Namun uniknya, di seluruh ayat tidak ditemukan kata “ikhlas”. Mengapa?
Bagi saya, ini pesan rahasia dari Tuhan tepat pada hari ketiga belas. Seolah Allah berbisik, “Kalau benar tulus berpuasa, nama tak perlu nampang di setiap pengumuman takjil atau disebut dalam laporan kegiatan.”
Biasa saya amati, banyak orang gemar “jualan” ikhlas. Saking kreatifnya, ada berdoa untuk kekasih,“Ya Allah, jika dia jodohku, satukan kami. Jika bukan jodohku, terimalah dia di sisi-Mu. Aku ikhlas, ya Rabb….”
Ini bukan ikhlas. Ini doa sontoloyo.
"Bee egapa tau mate" jika doa seperti ini benar-benar dikabulkan.
Lain lagi cerita seorang istri berujar mantap,“Saya tidak pernah menolak laki-laki berpoligami!”
“Wah, hebat kamu, Bu!” puji teman-teman.
Ia melanjutkan, “Saya juga tidak melarang kalau suami-suami ingin nikah lagi.”
Ibu-ibu lain menimpali, “Luar biasa, calon penghuni surga. Asal adil ya, Bu?”
“Bukan begitu,” jawabnya santai, “Yang penting bukan suami saya!”
Di situlah saya melihat, ketika kata ikhlas terucap sebagai pengakuan atau modus, keikhlasan justru pamit undur diri.
Ikhlas adalah nyawana pakasiwiangnge ruh ibadah. Namanya ruh, jika menampakkan diri di depan orang banyak, itu bukan lagi ibadah, melainkan Setan Sumiati.
Di lingkungan kerja pemerintahan seperti Balaikota, hal ini terasa makin nyata.
Saya teringat filosofi gula pasir. Gula adalah pahlawan tanpa tanda jasa paling tragis sekaligus mulia. Ia memberi rasa manis pada kopi, tetapi orang menyebutnya Kopi Manis, bukan Kopi Gula. Gula tetap diam, larut, hilang bentuk demi memberi rasa tanpa minta tag di media sosial.
Ironi pun muncul. Gula serba salah di mata manusia. Ketika kopi pahit, gula dianggap kurang. Saat kemanisan, gula kembali disalahkan.
Pergi ke warkop, pesan kopi panas. Apalagi jika disuguhkan janda pirang. Begitu diminum, lidah spontan berkata, “Mantapnya ini kopi!” Tak ada yang menyebut, “Mantap gulanya!” Padahal tanpa gula, kopi hanya menyisakan pahit di lidah.
Begitulah hidup. Kebaikan ditanam beribu kali tak pernah disebut. Satu kesalahan kecil langsung dibesar-besarkan seolah dunia kiamat. Bahkan saat telah memberi terbaik, masih ada yang merasa itu “terlalu berlebihan”.
Lalu apa solusi agar hati tidak sakit saat kebaikan serba salah di mata manusia?
Sederhana: jadilah seperti gula. Tetap mattongeng-tongeng (sungguh-sungguh) menebar manis meski posisi kerap disalahkan. Jangan sampai puasa hari ketiga belas hanya menyisakan lapar dan haus karena terlalu sibuk mencari penilaian orang lain.
Ikhlas adalah rahasia privat antara hamba dan Allah. Malaikat tak diberi tahu untuk mencatat “rasa” itu, dan setan pun bingung mencarinya. Belajarlah menghilang di balik amal. Biarkan kebaikan dirasakan sesama, bukan dipamerkan.
Selasa, 13 Ramadan 1447 H / 3 Maret 2026 MSK
Alat AksesVisi