Belum lama rasanya raga ini bergerak; menjalani rutinitas, berkeliling menebar tausiyah, hingga berbuka bersama para sahabat. Jemari masih merajut opini di surat kabar, sesekali menyimak kabar perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Hari-hari terasa akrab, seakan waktu melambat. Namun diam-diam, detaknya berlari kencang—hingga Ramadhan kini telah sampai di penghujung jalan.
Ramadhan ke-29 menyapa dengan semburat merah menusuk dada. Tubuh ini terbangun sesak, lebih berat dari biasanya. Ada kesadaran pedih: Ramadhan kini berkemas, bersiap pergi.
Di sudut ruang batin, saya melihat Ramadhan melipat hamparan sajadah cahaya. Jutaan kantung ampunan dimasukkan kembali ke peti langit. Kotak-kotak pahala selama ini terbuka lebar kini terkunci rapat.
Ramadhan akan pergi tanpa pamitan. Langkahnya sunyi, hampir tak teraba. Namun jejaknya meninggalkan lubang menganga di dada. Ia menjauh melintasi cakrawala, membawa kembali kunci-kunci surga sempat dipinjamkan kepada hamba lalai ini.
Kini, Ramadhan semakin samar. Lambaian tangannya nyaris tak tertangkap oleh mata batin saya buram karena noda. Ia bergerak menuju keabadian, meninggalkan jiwa terpaku di bumi fana.
Kepiluan semakin menyayat. Ramadhan tak membisikkan apakah dosa-dosa saya telah terampuni. Ia melangkah tanpa kepastian: apakah amal ibadah serba kekurangan ini diterima oleh Sang Khaliq.
Ingatan melayang pada kubah-kubah sempat kusinggahi—sekitar 80-an masjid di kota dan daerah selama Ramadhan. Semoga setiap jengkal lantai sujud, setiap nasihat sempat disampaikan, menjadi saksi bisu, pemberat amal, sekaligus pembersih dosa.
Keramahan panitia, pelayanan tulus, serta senyum hangat para jamaah kini menjelma menjadi kenangan manis menggetarkan batin. Semua terasa begitu dekat, namun sekaligus mulai menjauh bersama perginya Ramadhan.
Kini, keriuhan syiar Ramadhan mulai meredup. Kesunyian merayap hingga meja makan sahur. Di hadapan sisa hidangan, saya menatap piring dengan pandangan kosong. Sebuah tanya muncul di palung hati: apakah ini suapan sahur terakhir sebelum Ramadhan benar-benar pamit?
Kengerian halus menyelinap. Ramadhan cepat merapikan barang-barangnya. Ia seolah mengucapkan terima kasih atas setiap sujud dilakukan, namun juga membawa kesempatan tak mungkin terulang. Ruangan jiwa selama sebulan terasa lapang kini perlahan kembali sesak.
Sebentar lagi, masjid akan sunyi. Gema tadarus menghangatkan malam akan surut, digantikan senyap mencekam. Mukena-mukena dilipat rapi, baju koko tersimpan bisu, sarung masuk ke lipatan terdalam lemari. Semua tersimpan rapat, kecuali jika Tuhan kembali mempertemukan dengan Ramadhan berikutnya.
Ketidakpastian itu menjadi siksa paling nyata bagi jiwa lara.
Saya berdiri mematung di ambang perpisahan dingin. Kuteringat nasihat Hasan Al-Bashri: manusia hanyalah kumpulan hari. Ketika satu hari hilang, hilang pula sebagian dari diri kita. Ramadhan ke-29 ini adalah serpihan besar nyawa saya ikut terangkut bersama perginya Ramadhan.
Pintu langit perlahan ditarik kuncinya. Pintu neraka bersiap melepaskan rantainya kembali. Malam-malam pembebasan akan segera berakhir. Timbangan amal terasa ringan, jauh dari kata cukup untuk menebus surga.
Mata memanas, meresapi duka Rasulullah SAW saat melepas Ramadhan. Beliau berduka melihat Ramadhan menjinjing kembali keberkahannya menuju Arsy. Jika semesta suci saja menangis karena kehilangan tamu seindah Ramadhan, betapa malangnya hati ini jika tetap keras membatu.
Bisa jadi, Ramadhan kali ini adalah perjumpaan terakhir sebelum nisan kayu menancap atas nama saya. Ketidakpastian umur menghujam jantung doa-doa. Shalat terasa seperti sujud terakhir di dunia, sebagaimana sujud terakhir di penghujung Ramadhan.
Dalam kegelisahan itu, saya teringat sabda bahwa “Bau mulut orang berpuasa lebih wangi dari kasturi”. Namun bagi saya, itu justru menjadi pengingat akan dosa yang belum sempat terbasuh tuntas sebelum Ramadhan pamit.
Ibadah di penghujung waktu terasa begitu mendesak, seolah malaikat maut telah berdiri di samping, menanti giliran menjemput setelah Ramadhan benar-benar hilang dari pandangan.
Di ambang perpisahan ini, hanya ada ratapan. Musibah terbesar bukanlah berakhirnya lapar dan dahaga, melainkan hilangnya kesempatan pahala—dibawa pergi oleh Ramadhan, lenyap di cakrawala, nun jauh di sana.
Dan saya tertinggal.
Kamis, 29 Ramadan 1447 H / 19 Maret 2026SK
Alat AksesVisi