Siang itu, hujan membasahi Makassar. Namun, semangat orang-orang di jalan tak surut—semua seolah bergerak menuju satu tujuan: mempersiapkan Lebaran.
Di tengah suasana itu, saya memacu kendaraan menuju Rumah Sakit Pelamonia. Sebelum menunaikan amanah tausiah bakda Zuhur di penghujung Ramadan ke-28, saya menepi sejenak di depan Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat.
Bukan karena kehabisan bensin, melainkan karena kepala mendadak penuh ide—dan, seperti tangki, perlu “diisi ulang.”
Di sela perjalanan, saya berhenti sejenak. Bukan hanya menarik napas, tetapi juga meracik kalimat agar tetap gurih dan renyah bagi pembaca Lensa Jurnalistik Islami. Sambil itu, saya mengamati para pengendara dengan wajah penuh determinasi, bak menuntaskan urusan terakhir sebelum gerbang Lebaran ditutup.
Sebagai penulis di Lensa Jurnalistik Islami, niat harus diluruskan sejak awal. Kedatangan ke rumah sakit bukan untuk “menyerahkan diri” ke ruang opname karena lemas berpuasa, melainkan memenuhi undangan Bapak H. Iskandar Basumbul untuk menyampaikan tausiah Zuhur.
Suasana terasa khidmat—pimpinan RS Pelamonia hadir hampir lengkap bersama jajarannya.
Usai tausiah, begitu kembali ke jalanan, suasana langsung berubah. Sepanjang perjalanan, mata ini seperti kamera tanpa tombol pause—menangkap potongan realitas yang terasa begitu nyata di tengah hiruk-pikuk menjelang Lebaran.
Rasanya seperti melakukan final approach menuju hari kemenangan, hanya saja “turbulensinya” bernama macet.
Menjelang Lebaran 2026, jalanan bukan lagi sekadar tempat berlalu-lalang, melainkan menjelma pusat perbelanjaan tanpa dinding—lengkap dengan diskon, teriakan penjual, dan parkir yang penuh perjuangan.
Di trotoar, penjual cangkang ketupat seakan “mengepung” jalan. Jemari mereka lincah melipat janur, merajut harapan agar dagangan ludes sebelum takbir berkumandang.
Di sisi lain, ayam-ayam dalam keranjang menatap pasrah ke arah deretan songkok. Sebuah kontras yang sulit diabaikan: satu menunggu takdir menjadi opor, sementara yang lain bersiap tampil rapi untuk sujud di hari raya.
Tak jauh dari situ, perburuan baju baru berlangsung sengit di pasar hingga mal. Tradisi lama kembali hidup: tampil baru di hari yang fitri.
Namun, realitas sering kali justru menggelitik. Baju Lebaran belum tentu terbeli, tetapi toples kue sudah lebih dulu berjejer rapi—seperti pasukan elit yang siap tampil.
Kenari, nennu’-nennu’, beppa karoma dengan cita rasa “manyameng na massadidu” seolah memberi isyarat: urusan perut lebih cepat beres daripada urusan penampilan.
Kaleng Khong Guan pun tak pernah absen—diam-diam menjadi “jebakan batman.” Dibuka dengan harapan biskuit assorted, ternyata isinya kacipo’. We ndo’e!
Urusan baju masih tertahan.
Rencana membeli pun kerap ditunda dengan kalimat sakral:
“Tunggu THR cair.”
Kalimat ini seperti mantra. Selama belum cair, semua rencana ditahan—seolah baju itu baru turun setelah ada wahyu finansial.
Begitu ‘wahyu’ itu turun, suasana berubah. Dari semula penuh penantian, kini menjadi penuh perhitungan.
Di titik itulah, ada satu peringatan kecil: saat membuka amplop THR nanti, harap tenang. Jangan sampai semangat lebih besar daripada teknik membuka—uangnya bisa ikut tersobek. Tragedi kecil yang kadang terasa lebih menyakitkan daripada lapar seharian.
Namun, di balik semua hiruk-pikuk itu, terselip pertanyaan yang lebih dalam. Saya teringat dialog sederhana antara ayah dan anak:
“Kenapa Lebaran harus pakai baju baru?”
“Supaya kita tampil lebih baik.”
Anak itu kembali bertanya:
“Kalau begitu, kenapa yang diperbaiki bajunya, bukan kelakuannya?”
Ayahnya terdiam. Suasana berubah—dari ringan menjadi renungan.
Pada akhirnya, Lebaran menjadi ajang kumpul keluarga—dan tanpa disadari berubah menjadi sesi interogasi massal.
Persiapan mudik mungkin sudah 99% selesai. Tinggal satu persen yang belum: mental menghadapi pertanyaan yang selalu hadir setiap tahun.
Dan di antara semua itu, ada satu suara yang setia menunggu di ujung pertemuan:
“Kapan nikah?”
Rabu, 28 Ramadan 1447 H / 18 Maret 2026SK
Alat AksesVisi