Gambar Ramadan & Hostility: Ketika Lapar Ditahan, tetapi Amarah Dilepaskan

Ramadan selalu datang dengan wajah yang lembut. Ia mengetuk pintu hati manusia dengan ayat-ayat pengampunan, dengan malam-malam yang basah oleh doa, dengan siang yang hening oleh kesabaran. Ia seharusnya menjadi musim damai, di mana hati dilunakkan, lisan diperhalus, dan jiwa disucikan. 

Namun di tengah keheningan itu, ada ironi yang kerap tak kita sadari, kita menahan lapar, tetapi membiarkan kemarahan, kita menahan dahaga, tetapi tidak menahan kebencian.

Di sinilah persoalan itu bermula. Hostility, permusuhan, agresivitas, kebencian yang membeku dalam dada, kadang justru tumbuh di bulan yang seharusnya menumbuhkan rahmah. Ia tidak selalu berupa bentakan atau pukulan. Ia bisa hadir dalam nada sinis, dalam unggahan bernada tajam, dalam komentar yang menusuk, dalam perdebatan agama yang kehilangan adab. Ia hidup dalam hati yang merasa paling benar, dan mati rasa terhadap luka orang lain.

Padahal Allah SWT. telah menjelaskan tujuan puasa dengan begitu jernih:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa bukan sekadar ritual. Ia adalah kualitas batin yang memancar dalam perilaku. Ia adalah kesadaran bahwa setiap kata diawasi, setiap emosi dicatat, setiap niat ditimbang. Maka bagaimana mungkin puasa yang bertujuan melahirkan takwa justru menyisakan bara permusuhan?

Rasulullah SAW. seakan telah membaca kecenderungan ini jauh sebelum kita hidup di era media sosial dan polarisasi opini. Beliau bersabda:
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
“Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan bersikap bodoh. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa".
(HR. Bukhari dan Muslim).

Kalimat “inni sha’im” bukan sekadar pemberitahuan. Ia adalah deklarasi pengendalian diri. Seolah-olah seorang mukmin berkata pada dirinya sendiri, Aku sedang belajar menahan diri. Aku tidak boleh dikuasai emosi.

Namun realitas sosial menunjukkan hal yang berbeda. Di bulan Ramadhan, perdebatan agama kian panas, isu-isu sosial dipertajam, dan simbol-simbol kesalehan kadang dijadikan alat saling serang. Hostility tidak selalu tampak kasar, kadang ia dibungkus dalil, dibalut retorika, diselimuti pembenaran moral.

Padahal Allah SWT. telah memberikan prinsip emas dalam menghadapi keburukan:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik.”
(QS. Fussilat: 34)

Ayat ini bukan hanya anjuran etika sosial, ia adalah revolusi batin. Membalas kebencian dengan kebencian adalah naluri. Membalas kebencian dengan kebaikan adalah spiritualitas. Nabi SAW. pun mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan pada otot, tetapi pada kendali diri:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak hubungan rusak hanya karena satu kalimat yang tidak tertahan. Betapa banyak ukhuwah retak hanya karena ego yang tidak rela mengalah. Ali bin Abi Thalib RA. pernah berkata:
أَوَّلُ الْغَضَبِ جُنُونٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ
“Awal kemarahan adalah kegilaan, dan akhirnya adalah penyesalan.”

Ramadhan seharusnya menjadi ruang terapi bagi jiwa yang mudah marah. Lapar mengajarkan empati. Dahaga melatih kesabaran. Tarawih melunakkan hati. Tetapi jika setelah semua itu hati masih keras, mungkin yang berpuasa hanyalah tubuh, bukan jiwa.

Allah SWT. menggambarkan karakter orang bertakwa dengan sangat indah:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia; dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Ali Imran: 134)

Menahan amarah bukan kelemahan, ia adalah kematangan. Memaafkan bukan kekalahan, ia adalah kemenangan batin. Hostility pada hakikatnya bukan masalah lisan, melainkan masalah hati. Ketika hati mengeras, kebencian mudah tumbuh. Ketika hati lembut, bahkan kritik pun terasa santun. 

Ibnul Qayyim pernah menulis:
ما ضُرِبَ عبدٌ بعقوبة أعظم من قسوة القلب
“Tidaklah seorang hamba dihukum dengan hukuman yang lebih besar daripada kerasnya hati.”

Maka Ramadhan hadir untuk melembutkan hati itu. Ia ingin kita keluar bukan hanya dengan tubuh yang lebih ringan, tetapi jiwa yang lebih jernih. Ia ingin kita bukan sekadar menahan makan, tetapi menahan dendam. Bukan sekadar menunda sahur, tetapi menunda amarah.

Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang seberapa banyak ayat yang kita baca, tetapi seberapa banyak luka yang kita sembuhkan. Bukan tentang seberapa panjang doa kita, tetapi seberapa luas maaf kita. Jika setelah Ramadhan kita masih mudah membenci, berarti kita belum benar-benar memahami makna puasa.

Maka pertanyaan yang paling sunyi namun paling jujur adalah ini: “ketika lapar kita tahan dan dahaga kita sabarkan, apakah kebencian juga kita puasakan?”

Karena Ramadhan sejatinya bukan hanya menahan yang masuk ke mulut, tetapi menahan yang keluar dari hati. Dan di situlah letak kemenangan yang sesungguhnya.

Wallahu A’lam Bis-Shawab
Semoga Bermanfaat

Al-Faqir.Munawir Kamaluddin