Imsak digital merupakan sebuah terminologi yang saya buat untuk menggambarkan tentang perlunya kesadaran manusia untuk menahan diri dari pengaruh buruk media digital seperti gawai.
Di bulan Ramadhan ketika pahala dilipatgandakan, justru layar kecil di tangan kita sering lebih lama menyala daripada mushaf di meja. Kita menahan lapar belasan jam, tetapi tak mampu menahan jempol beberapa menit. Gawai yang seharusnya alat bantu, pelan-pelan menjadi penguasa waktu. Inilah ironi Ramadhan modern. Tubuh berpuasa, tetapi atensi terus berpesta.
Fenomena ini bukan sekadar keluhan moral, tetapi fakta sosial. Rata-rata waktu penggunaan gawai harian di berbagai survei global mencapai berjam-jam. Media sosial, video singkat, game, dan percakapan daring menyedot fokus tanpa terasa. Algoritma dirancang untuk membuat kita terus menggulir, terus menonton, terus kembali. Dalam logika ekonomi digital, perhatian adalah komoditas. Dan kita sering tanpa sadar menyerahkannya secara cuma-cuma.
Dampaknya tidak hanya pada produktivitas, tetapi juga pada kualitas spiritual. Shalat tertunda karena sibuk scroing hiburan atau berita. Berapa kali waktu belajar atau bekerja terpotong oleh “sekadar lima menit” yang berubah menjadi setengah jam? Berapa percakapan suami-istri yang terganggu karena masing-masing sibuk dengan layar? Gawai bukan sekadar benda, ia membentuk pola relasi dan prioritas.
Puasa dimaksudkan agar manusia bertakwa, yakni sadar dan terjaga. Lalai adalah lawan dari takwa. Lalai berarti hati tidak hadir, pikiran tercerai-berai, waktu habis tanpa makna. Jika Ramadhan adalah bulan kesadaran, maka kecanduan gawai bisa menjadi bentuk baru kelalaian.
Hari ini kita hidup dalam masyarakat yang terhubung tetapi terfragmentasi. Terhubung dengan ribuan orang secara daring, tetapi terputus dari yang duduk di samping kita. Di ruang keluarga, semua hadir secara fisik, namun masing-masing tenggelam dalam dunia digitalnya sendiri. Relasi menjadi dangkal. Dialog menjadi singkat. Empati melemah karena perhatian terpecah.
Puasa sejatinya sebagai latihan mengatur bukan hanya asupan makanan, tetapi juga asupan informasi. Jika kita mampu menahan diri dari yang halal seperti makan dan minum, bukankah seharusnya lebih mudah menahan diri dari guliran tak berujung yang sering tak perlu? Detoksifikasi digital bisa menjadi bagian dari ibadah Ramadhan.
Ini bukan berarti gawai harus dimusuhi. Ia bisa menjadi sarana kebaikan seperti mendengar kajian, membaca tafsir, berbagi ilmu. Namun tanpa kendali, ia berubah menjadi sumber distraksi permanen. Yang perlu diatur bukan teknologinya semata, tetapi kedisiplinan diri kita.
Puasa melatih kita pada struktur waktu. Ada imsak, ada berbuka. Ada siang menahan, ada malam menguatkan. Mungkin kita perlu membuat imsak digital,yaitu batas waktu tanpa layar, terutama saat menjelang berbuka dan setelah tarawih. Mengembalikan malam Ramadhan pada tilawah, dialog keluarga, atau refleksi sunyi.
Karena waktu adalah modal spiritual. Setiap menit Ramadhan bernilai. Ketika ia habis untuk hal yang sia-sia, yang hilang bukan hanya produktivitas, tetapi juga peluang mendekat.
Kita harus memegang teguh prinsip, bukan gawai yang mengatur hidup, tetapi kesadaran yang memimpin teknologi. Agar Ramadhan tidak berlalu sebagai bulan yang sibuk di layar, tetapi hening dan bermakna di hati. Sebab pada akhirnya, yang paling berharga bukan cahaya yang kita lihat di layar, melainkan cahaya yang tumbuh di dalam jiwa.
Sungguminasa 7 Ramadhan 1447 H(*)
Alat AksesVisi