Ada sisi Ramadhan yang sering luput dari perhatian. Ia tidak terdengar dalam lantunan tilawah yang menggema di masjid, tidak tampak dalam saf-saf shalat yang rapat, dan tidak pula menjadi sorotan dalam mimbar-mimbar khutbah. Namun justru di sanalah letak kekuatan yang menentukan, sebuah kapasitas sunyi yang bekerja dalam diam, menghidupkan suasana, menata ritme, dan menjaga keberlanjutan makna. Itulah yang dalam bahasa modern dapat kita sebut sebagai Women’s Capability, yakni kapasitas integral perempuan muslimah dalam mengelola kehidupan, emosi, spiritualitas, dan relasi sosial sehingga Ramadhan tidak sekadar dijalani, tetapi benar-benar dihidupkan.
Women’s Capability bukan sekadar keterampilan teknis atau kemampuan domestik yang sering disempitkan oleh persepsi umum. Ia adalah perpaduan antara kecerdasan hati, ketajaman intuisi, kekuatan spiritual, dan keuletan dalam bertindak. Dalam Ramadhan, kapasitas ini menjelma menjadi energi tak terlihat yang mengalir dalam setiap detik kehidupan keluarga, dari sahur yang terbangun tepat waktu, hingga berbuka yang penuh syukur, dari rumah yang tenang hingga hati yang lapang. Ia adalah seni mengorkestrasi kehidupan agar tetap selaras dengan nilai-nilai ilahiyah.
Allah SWT. secara halus mengisyaratkan pentingnya peran tersembunyi ini dalam firman-Nya:
وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ
“Laki-laki dan perempuan yang khusyuk, yang jujur, yang sabar, yang bersedekah, dan yang berpuasa…” (QS. Al-Ahzab: 35)
Ayat ini bukan sekadar menyandingkan laki-laki dan perempuan, tetapi menegaskan bahwa dalam setiap dimensi ibadah, perempuan memiliki posisi yang setara dalam nilai, dan sering kali dalam realitas kehidupan, mereka menjadi penopang utama keberlangsungan nilai tersebut.
Dalam keheningan sahur, ketika banyak manusia masih terlelap, perempuan telah lebih dahulu bangkit. Ia tidak sekadar menyiapkan makanan, tetapi sedang menyiapkan energi ibadah bagi orang-orang yang dicintainya.
Dalam kondisi lelah, ia tetap tersenyum, menjaga agar suasana rumah tidak kehilangan kehangatan. Di sinilah makna ayat yang jarang diangkat menemukan relevansinya:
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ فَكُّ رَقَبَةٍ أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ
“Maka tidakkah ia menempuh jalan yang mendaki? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki itu? (yaitu) membebaskan budak atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 11–14)
Memberi makan di saat sulit adalah amal yang tinggi nilainya. Maka bagaimana dengan perempuan yang setiap hari memberi makan orang yang berpuasa? Bukankah itu adalah bentuk nyata dari menapaki “jalan mendaki” yang disebutkan oleh Allah?
Lebih dalam lagi, Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar, tetapi menjaga stabilitas emosi dan kejernihan hati. Di sinilah perempuan memainkan peran yang sangat halus namun fundamental. Ia menjadi penyeimbang ketika emosi memuncak, menjadi peneduh ketika suasana mulai memanas. Tanpa banyak teori, ia mempraktikkan nilai yang diajarkan Rasulullah SAW:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ
“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan, serta memberikan pada kelembutan apa yang tidak diberikan pada kekerasan.” (HR. Muslim)
Kelembutan ini bukan kelemahan, tetapi kekuatan. Ia adalah kemampuan mengelola emosi sehingga tetap produktif dalam kebaikan. Dan perempuan, dengan capability-nya, menghadirkan kelembutan itu dalam bentuk nyata, dalam tutur kata, dalam sikap, dalam kesabaran yang terus diuji namun tidak pernah habis.
Tidak hanya itu, perempuan juga menjadi penggerak pahala kolektif yang sering kali tidak disadari. Setiap makanan sahur dan berbuka yang ia siapkan bukan hanya sekadar aktivitas rutin, tetapi ladang pahala yang terus mengalir.
Bahkan dalam hadits yang jarang disorot secara kontekstual, Rasulullah SAW. bersabda:
السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Orang yang berusaha membantu janda dan orang miskin seperti mujahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semangat pelayanan dan kepedulian ini sangat dekat dengan peran perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Ia melayani bukan karena kewajiban semata, tetapi karena dorongan iman dan cinta. Ia menghidupkan nilai berbagi, bukan hanya dalam skala besar, tetapi dalam keseharian yang sederhana namun bermakna.
Dalam dimensi yang lebih luas, perempuan adalah madrasah pertama bagi generasi. Ramadhan menjadi momentum pendidikan karakter yang sangat kuat, dan perempuan berada di garis depan dalam proses ini. Ia mengajarkan anak-anaknya untuk berpuasa, untuk bersabar, untuk berbagi, dan untuk mencintai ibadah.
Sebagaimana diingatkan oleh seorang ulama besar, Sufyan al-Thawri:
إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَنَا رُخْصَةٌ مِنْ ثِقَةٍ، فَأَمَّا التَّشَدُّدُ فَيُحْسِنُهُ كُلُّ أَحَدٍ
“Ilmu menurut kami adalah keringanan yang datang dari orang terpercaya, sedangkan sikap keras bisa dilakukan oleh siapa saja.”
Perempuan memahami bahwa pendidikan bukanlah tekanan, tetapi keteladanan. Ia tidak memaksa, tetapi mengajak. Ia tidak menggurui, tetapi mencontohkan. Dan dari situlah lahir generasi yang tidak hanya taat secara formal, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual.
Pada akhirnya, Women’s Capability dalam Ramadhan adalah tentang bagaimana perempuan mengubah hal-hal biasa menjadi luar biasa. Ia mengubah rutinitas menjadi ibadah, kelelahan menjadi pahala, dan kesederhanaan menjadi kemuliaan. Ia adalah energi yang tidak terlihat, tetapi menentukan arah. Ia adalah cahaya yang tidak menyilaukan, tetapi menerangi.
Ramadhan mungkin akan berlalu, tetapi jejak capability itu akan tetap hidup, dalam karakter anak-anak, dalam keharmonisan keluarga, dan dalam nilai-nilai yang terus mengalir. Maka ketika kita berbicara tentang kesuksesan Ramadhan, sejatinya kita sedang berbicara tentang peran perempuan, yang dengan diamnya, telah menghidupkan makna yang paling dalam.
#Wallahu A’lam Bis-Shawab
Semoga Bermanfaat
Al-Faqir. Munawir Kamaluddin
Alat AksesVisi