Gambar Ramadan: Dari Perbedaan menuju Kesadaran

Betapa sering kita lebih sibuk membela Tuhan daripada menyelami kasih-Nya. Padahal Allah itu Maha Rahman dan Maha Rahim. Ampunan-Nya seluas langit dan bumi. Tidak mungkin Dia Yang Tak Terbatas itu menghukum hamba-Nya hanya karena mengekspresikan ketakwaan berdasarkan ijtihadnya. Baik hisab maupun rukyat adalah hasil pergulatan intelektual para ulama, usaha sungguh-sungguh membaca tanda-tanda Tuhan di langit dan di bumi. Perbedaan bukan cela, melainkan jejak pencarian.

Dalam tradisi Islam, ijtihad adalah kerja akal yang tunduk kepada wahyu. Ia bukan kesombongan intelektual, tetapi ketawadhuan epistemologis, sebuah pengakuan bahwa manusia memahami kebenaran secara bertahap. Maka ketika sebagian memulai Ramadhan dengan hisab dan sebagian dengan rukyat, sesungguhnya keduanya berdiri di atas niat yang sama, taqarrub ilallah, mendekat kepada Allah. Yang membedakan hanya jalan, bukan tujuan.

Dalam pandangan para sufi, Ramadhan adalah laboratorium batin. Ia bukan sekadar momentum legal-formal untuk menahan makan dan minum, melainkan proses tazkiyatun naf. Jika perbedaan metode membuat kita kehilangan kelembutan, mungkin yang perlu dikoreksi bukan kalendernya, tetapi hatinya.

Tuhan tidak dilihat dari kaca mata perdebatan, tetapi dari kejernihan hati.

Seperti halnya dengan kurban. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa bukan daging dan darah hewan yang sampai kepada-Nya, tetapi ketakwaan kita. Ayat ini seperti tamparan halus bagi kesadaran religius kita bahwaTuhan tidak membutuhkan materi, Tuhan menghendaki kualitas batin. Maka ketika orang ribut tentang distribusi daging atau jumlah hewan, sering kali yang hilang adalah makna terdalamnya yaitu penyerahan diri dan keikhlasan.

Ramadhan pun demikian. Ia bukan kompetisi siapa yang paling awal atau paling akhir memulai puasa. Ia bukan soal siapa yang paling keras suaranya dalam membela pendapat. Dalam perspektif filsafat etika, Ramadhan adalah sekolah self controlling. Puasa melatih manusia mengatur hasrat, bukan sekadar menahannya. Menahan lapar itu mudah, yang sulit adalah menahan ego. Menahan dahaga itu biasa, yang luar biasa adalah menahan amarah dan kesombongan.

Dalam kerangka sufistik, manusia memiliki dua kecenderungan: jasad yang cenderung ke bumi dan ruh yang rindu ke langit. Puasa adalah jembatan yang menyeimbangkan keduanya. Ketika perut dikosongkan, maka ruang batin dilapangkan. Ketika dunia diringankan, maka cahaya kesadaran mudah masuk. Karena itu, Ramadhan sejatinya adalah perjalanan dari fisik menuju metafisik, dari kebiasaan menuju kesadaran.

Perbedaan awal Ramadhan seharusnya mengajarkan kita tentang relativitas cara dan absolutnya tujuan. Tuhan melihat niat, bukan teknisnya. Seorang hamba yang berpuasa berdasarkan keyakinan hasil ijtihad tidak sedang menentang Tuhan, ia sedang mengikuti pemahaman terbaik yang dimilikinya. Di sinilah etika keberagamaan diuji. Apakah kita lebih mencintai kebenaran atau lebih mencintai ego?

Filsafat eksistensial mengingatkan bahwa manusia menjadi otentik ketika ia bertindak berdasarkan kesadaran terdalamnya, bukan tekanan sosial. Ramadhan memberi kesempatan untuk menjadi otentik secara spiritual. Kita berpuasa bukan karena dilihat orang, tetapi karena merasa dilihat Allah. Kita menahan diri bukan karena takut celaan, tetapi karena rindu perjumpaan.

Jika Ramadhan hanya berhenti pada lapar dan dahaga, maka ia sekadar ritual biologis. Tetapi jika ia melahirkan kendali diri, empati sosial, dan kelapangan hati terhadap perbedaan, maka ia menjadi transformasi ontologis, sebuah perubahan pada cara kita “ada” di dunia.

Sungguminasa 1 Ramadan 1447 H