Gambar Ramadan: Dari Pengendalian Diri Menuju Pengenalan Diri

Banyak orang tidak pernah benar-benar mengenal dirinya. Ia mengira dirinya adalah hartanya. Ia merasa dirinya adalah jabatannya. Dengan penuh kebanggaan (misalnya) ia menepuk dada: “Saya ini Walikota” Seolah-olah identitas itu melekat abadi pada dirinya. Padahal jabatan hanyalah pakaian sosial, dipakai pada satu musim, dilepas pada musim berikutnya.

Seseorang disebut walikota atau apapun jabatannya ketika ia berada dalam struktur pemerintahan. Tetapi ketika ia duduk di bangku kuliah, misalnya di hadapan dosen, statusnya berubah. Ia adalah mahasiswa. Ketika ia terbaring di ruang periksa dan berhadapan dengan dokter, ia adalah pasien. Ketika ia pulang ke rumah, di hadapan ibunya, ia tetaplah seorang anak. Lalu yang manakah dirinya yang sesungguhnya?

Jabatan bersifat temporer. Kekayaan bersifat eksternal. Popularitas bersifat fluktuatif. Semua itu adalah atribut, bukan esensi. Namun manusia sering terjebak pada atribut dan lupa pada substansi. Ia mempertahankan simbol, tetapi kehilangan makna. Ia membangun citra, tetapi mengabaikan jiwa.

Di sinilah puasa menemukan urgensinya. Ramadan hadir bukan sekadar untuk mengendalikan lapar, tetapi untuk membongkar ilusi tentang diri. Saat kita berpuasa, semua atribut sosial harus ditanggalkan. Orang kaya dan miskin sama-sama merasakan lapar. Pejabat dan rakyat biasa sama-sama menahan dahaga. Di hadapan rasa lapar, status sosial menjadi tidak relevan. Yang tersisa hanyalah manusia yang rapuh, bergantung, dan membutuhkan.

Dalam pendekatan sufistik, krisis terbesar manusia adalah krisis identitas spiritual. Ia lupa bahwa dirinya adalah hamba. Ia terlalu sibuk menjadi “sesuatu” di mata manusia, hingga lupa menjadi “siapa” di hadapan Tuhan. Padahal dalam Al-Qur'an, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jabatan atau kekayaan, tetapi oleh ketakwaannya.

Sebelum mengendalikan diri, kita harus mengenal diri. Siapa yang kita kendalikan? Ego kah? Nafsu kah? Atau sekadar citra sosial yang ingin dipertahankan?

Puasa bekerja seperti cermin eksistensial. Ketika rasa lapar mengguncang, topeng-topeng sosial mulai retak. Kita mulai menyadari bahwa diri sejati bukanlah gelar di depan nama, bukan pula kursi yang kita duduki. Semua itu bisa berpindah. Hari ini kita memegang jabatan, besok orang lain yang memegangnya. Hari ini kita sehat, esok mungkin kita terbaring lemah.

Filsafat eksistensialisme mengajarkan bahwa identitas sejati manusia terletak pada kesadarannya, bukan pada atribut luarnya. Dalam bahasa spiritual, identitas sejati adalah kehambaan. Ketika seseorang menyadari bahwa ia hanyalah hamba Allah, di situlah ia menemukan kebebasan sejati. Ia tidak lagi terikat oleh pujian, tidak runtuh oleh celaan, dan tidak silau oleh kekuasaan.

Ramadan adalah latihan menanggalkan atribut itu secara sadar. Ia mengajari kita bahwa lapar tidak mengenal jabatan. Dahaga tidak tunduk pada kekayaan. Semua kembali pada hakikat paling dasar.

Maka puasa bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah proses dekonstruksi diri. Ia meruntuhkan ilusi bahwa kita adalah apa yang kita miliki. Ia membimbing manusia mengenal dirinya sebagai hamba, lemah tetapi dimuliakan, terbatas tetapi dicintai.

Mari bertanya dengan jujur, jika jabatan dilepas, jika harta diambil, jika pujian berhenti, lalu siapakah kita? Jika kita mampu menjawab pertanyaan itu dengan tenang, maka puasa kita telah bekerja. Dan di situlah Ramadhan menemukan cahayanya.

Sungguminasa, 2 Ramadan 1447 H