Gambar Ramadan: Bulan yang Dirindukan

Memasuki hari ketujuh, terjadi sesuatu yang unik dalam diri seorang yang berpuasa. Jika hari-hari awal dipenuhi semangat dan hari-hari tengah diwarnai ujian kesabaran, maka hari ketujuh mulai menghadirkan rasa lain:kedekatan. Lapar tidak lagi terasa sebagai gangguan, melainkan sebagai teman perjalanan.

Banyak orang mulai menyadari — ternyata hidup bisa berjalan lebih tenang tanpa terlalu banyak makan, tanpa banyak bicara, dan tanpa terlalu sibuk mengejar hal-hal yang tidak penting.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa salah satu hikmah puasa adalah tarkiq al-qalb melembutkan hati. Perut yang kenyang sering membuat hati keras, sedangkan perut yang lapar membuat jiwa peka.

Karena itu, pada hari ketujuh biasanya seseorang lebih mudah tersentuh. Ayat Al-Qur’an terasa lebih dalam. Adzan maghrib terasa lebih indah. Doa terasa lebih jujur. Bahkan suara sendok menyentuh piring saat berbuka pun bisa terasa seperti nikmat besar.

Imam Asy-Syafi’i pernah berpesan bahwa terlalu kenyang mengeraskan hati, melemahkan kecerdasan, dan memberatkan ibadah. Para ulama memahami puasa sebagai “istirahatnya tubuh agar jiwa berbicara”.

Hari ketujuh menjadi fase ketika ruhani mulai mengambil alih kendali dari jasmani. Kita tidak lagi sekadar menahan lapar, tetapi mulai menikmati kesederhanaan.

Dikisahkan seorang sufi muda berkata kepada gurunya,
“Guru, ada yang aneh. Baru tujuh hari berpuasa, tapi aku sudah merasa tidak ingin Ramadhan cepat berlalu.

Sanggurutersenyum,
“Itu bukan aneh. Itu tanda hatimu akhirnya mendapat makanan.”

Muridnya bertanya,
“Bukankah kita sedang lapar?”

Guru itu menjawab,
“Perutmu lapar, tapi jiwamu kenyang.”

Para sufi memang memandang Ramadhan bukan bulan menahan, tetapi bulan ditemani. Mereka merasa Allah lebih dekat bukan karena Allah berubah, tetapi karena hati mereka akhirnya tidak terlalu bising oleh dunia.

Seorang kakek yang dikenal bijak ditanya cucunya:
“Kakek, kenapa waktu Ramadhan maghrib terasa lama sekali, tapi setelah berbuka tiba-tiba malam cepat?”

Kakek itu tertawa,
“Nak, sebelum berbuka kita menunggu makanan. Setelah berbuka kita ditunggu tarawih.

Lalu ia berkata lagi, “Ramadhan itu seperti tamu mulia. Saat belum datang kita menunggu, saat sudah datang kita sibuk, dan saat hampir pergi kita sedih.”

Hari ketujuh adalah awal rasa rindu kepada ibadah. Tarawih mulai terasa kurang jika tertinggal.

Tilawah mulai terasa ada yang hilang jika sehari terlewat. Sedekah mulai terasa ringan.

Inilah tanda puasa mulai bekerja bukan lagi kewajiban yang dipaksakan, tetapi kebutuhan yang dirasakan.

Para arif berkata: “Awal Ramadhan engkau mencari pahala, pertengahannya engkau mencari Allah, dan akhirnya engkau takut berpisah dengan-Nya.”

Maka gunakan hari ketujuh ini untuk menambah kedekatan: memperlama doa setelah subuh, duduk sejenak setelah tarawih, atau sekadar memandang langit malam sambil berdzikir.

Karena bisa jadi, yang membuat Ramadhan indah bukan hanya berbuka bersama, tetapi perasaan tenang yang jarang kita temukan di sebelas bulan lainnya.

Allah A’lam
Makassar, 25 Februari 2026

(*)